BENUANTA – Peringatan Hari Desa Nasional tingkat Provinsi Kalimantan Utara berlangsung khidmat di Desa Wisata Pulau Sapi. Gubernur Zainal A Paliwang membawa pesan penting tentang perubahan cara pandang terhadap desa.
Selama ini desa sering dianggap sebagai objek pinggiran dalam pembangunan nasional. Namun paradigma tersebut kini harus diubah total seiring perkembangan zaman.
Desa harus menjadi subjek utama yang memegang kendali atas kemajuannya sendiri. Konsep lama membangun desa kini bergeser menjadi desa membangun.
Kabupaten Malinau dipilih sebagai tuan rumah acara bukan tanpa alasan kuat. Wilayah ini mencatatkan prestasi gemilang dengan meniadakan status desa tertinggal sejak 2025.
Capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa kemandirian desa bukan sekadar wacana. Desa Pulau Sapi sendiri menjadi contoh sukses bagaimana komunitas lokal mengelola potensi mereka.
Gubernur menekankan bahwa kemajuan sebuah daerah sangat bergantung pada kekuatan desa di dalamnya. Ia ingin semangat kemandirian yang tumbuh di Malinau menular ke seluruh wilayah Kaltara.
Wajah Depan Negara
Posisi Kalimantan Utara sebagai serambi perbatasan memiliki nilai strategis yang tinggi. Desa yang berada di garis depan bukan lagi halaman belakang melainkan wajah negara.
Pemerintah provinsi berkomitmen terus mendorong penguatan kapasitas aparatur dan masyarakat desa. Tujuannya agar setiap desa mampu menggali potensi ekonomi tanpa harus terus bergantung pada bantuan pusat.
Acara ini juga diwarnai dengan penyerahan bantuan bibit bagi para petani lokal. Hal ini menyimbolkan harapan agar ekonomi desa tumbuh subur dari akarnya sendiri.
Zainal mengingatkan seluruh kepala desa untuk lebih inovatif dalam merumuskan kebijakan. Masa depan provinsi ini ditentukan oleh seberapa kuat pondasi yang dibangun dari tingkat desa.
“Paradigma desa sebagai objek harus kita tinggalkan karena desa adalah subjek yang menjadi ujung tombak pembangunan bangsa,” kata Gubernur Zainal A Paliwang, Rabu (28/1/26).



