Benuanta – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil (KMS) menggelar aksi di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Jalan Gajah Mada, Kota Samarinda, Senin (18/11). Aksi ini dilakukan untuk menuntut keadilan atas insiden pembunuhan yang menimpa dua warga di Dusun Muara Kate, Kabupaten Paser.
Dalam aksi tersebut, KMS menuntut keadilan bagi dua warga adat Dayak yang diduga dibunuh akibat penolakan mereka terhadap penggunaan jalur tambang di wilayah mereka.
Humas KMS Kalimantan Timur, Dede, menjelaskan bahwa tragedi ini terjadi pada 15 November saat Rusel (60) dan Anson (55) berjaga di posko penolakan jalur tambang. Sekitar pukul 05.00 WITA, orang tak dikenal menyerang mereka dengan menebas leher menggunakan senjata tajam.
Rusel meninggal akibat luka sayatan di leher, sementara Anson masih dirawat di rumah sakit.
Dalam aksi ini, Dede mengungkapkan bahwa KMS mengutuk keras pembunuhan ini dan menyayangkan kelambanan pemerintah serta aparat kepolisian dalam menangani kasus serupa.
“Ini bukan kali pertama kekerasan terjadi. Pemerintah dan aparat harus segera mengambil langkah nyata,” tegas Dede.
Dede juga menyoroti bahwa konflik ini berakar pada jalur hauling tambang milik PT Mantimin Coal Mining, yang sebelumnya telah menewaskan seorang pendeta beberapa waktu lalu.
“Tetapi hingga kini, tidak ada tindakan tegas, bahkan perjuangan masyarakat justru dibalas dengan kekerasan,” tambahnya.
Dalam aksi tersebut, para demonstran juga melakukan teatrikal untuk menggambarkan dampak kerusakan lingkungan dan kekejaman terhadap warga adat. Mereka juga menyerukan pencopotan Kapolda Kaltim dan Kapolres Paser yang dianggap gagal melindungi masyarakat Kalimantan Timur.
“Kami menuntut pemerintah menjamin hak masyarakat atas lingkungan hidup yang sehat, bukan membiarkan mereka jadi korban kerakusan tambang,” tutup Dede.



