Inflasi Kaltim Capai 3,31 Persen Samarinda Tempati Posisi Tertinggi

Hasyimy

BENUANTA – Gelombang kenaikan harga komoditas terus menghantam wilayah Kalimantan Timur. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2026, tingkat inflasi tahunan provinsi ini secara umum menyentuh angka 3,31 persen.

Menariknya, beban ekonomi terberat justru dirasakan oleh warga Kota Samarinda. Ibu kota provinsi tersebut mencatatkan lonjakan harga paling ekstrem dibandingkan wilayah lainnya dan menempati posisi tertinggi.

Disparitas Beban Ekonomi Antarwilayah

Inflasi Kaltim Capai 3,31 Persen Samarinda Tempati Posisi Tertinggi
Inflasi Kaltim Capai 3,31 Persen Samarinda Tempati Posisi Tertinggi

Kepala BPS Provinsi Kalimantan Timur Mas’ud Rifai memaparkan adanya ketimpangan tingkat inflasi di empat wilayah pantauan utama. Samarinda memimpin puncak inflasi dengan angka yang menembus 3,92 persen.

Angka tersebut jauh melampaui rata-rata provinsi maupun wilayah penyangga ibu kota negara. Penajam Paser Utara hanya mencatat inflasi sebesar 3,02 persen, sementara Balikpapan berada di angka 2,95 persen.

“Adapun inflasi terendah terjadi di Kabupaten Berau sebesar 2,38 persen,” ungkap Mas’ud pada Jumat (3/4/26).

Biaya Perawatan Pribadi dan Perumahan Meroket

Lonjakan inflasi ini tidak sekadar dipicu oleh urusan perut. Meski kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 3,35 persen, terdapat sektor lain yang mengalami kenaikan harga gila-gilaan dan menguras kantong masyarakat.

Kelompok pengeluaran untuk perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat meroket tajam hingga 15,65 persen. Selain itu, biaya dasar hidup seperti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga menyumbang beban signifikan dengan kenaikan mencapai 5,25 persen.

Dari seluruh komponen yang dihitung, satu-satunya sektor yang mampu memberikan sedikit napas lega bagi warga adalah kelompok perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang harganya turun 1,06 persen.

Bagikan:

Baca Juga