Syarat Mutlak Desa Wisata Terbaik Kaltim Wajib Penuhi Standar Wonderful Indonesia

Hasyimy

BENUANTA – Menjadi desa wisata unggulan di Kalimantan Timur kini tidak bisa lagi hanya bermodalkan pemandangan alam yang eksotis. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dituntut untuk membuktikan bahwa keindahan desanya diimbangi dengan tata kelola yang profesional, pemberdayaan ekonomi warga, dan komitmen keberlanjutan.

Realitas ketat ini sedang dihadapi oleh 10 finalis Lomba Desa Wisata Tingkat Provinsi Kaltim Tahun 2026. Berpusat di Ruang Rapat Sapta Pesona Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim pada pertengahan Mei ini, para perwakilan desa wisata tersebut harus memeras otak dalam tahapan krusial berupa presentasi dan validasi data di hadapan dewan juri profesional.

Kepala Dispar Provinsi Kaltim Ririn Sari Dewi menegaskan bahwa penilaian tahun ini memiliki nilai strategis dan sangat objektif. Pemerintah daerah tidak ingin ajang ini sekadar menjadi kompetisi memamerkan pesona semata, melainkan harus melahirkan desa wisata yang benar-benar siap bersaing di level nasional.

Tiga Instrumen Penilaian Super Ketat

Didampingi Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Angit Ding, Ririn memaparkan bahwa ke-10 finalis tersebut disaring menggunakan kriteria yang tidak main-main. Setidaknya ada tiga instrumen besar yang menjadi tolok ukur mutlak dan mengikat.

Berikut adalah tiga instrumen utama yang wajib dipenuhi oleh para finalis

  • Lima Aspek Indikator Desa Wisata Terbaik Standar dasar yang mengukur kesiapan dan kelayakan operasional desa wisata.
  • Dimensi Wonderful Indonesia Awards (WIA) Mencakup penilaian menyeluruh terhadap manajemen pengelola, kualitas produk, kelengkapan fasilitas, pelestarian lingkungan, dan kekuatan kelembagaan.
  • Pergub Kaltim Nomor 38 Tahun 2025 Aturan daerah yang secara khusus menitikberatkan pada keberlanjutan wisata, penguatan kelembagaan lokal, serta dampak langsungnya terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

“Program ini diharapkan menjadi pemantik motivasi bagi Pokdarwis di Kalimantan Timur untuk terus berinovasi, berkolaborasi, dan membangun kemitraan demi mewujudkan pariwisata daerah yang berdaulat dan berkelanjutan,” tegas Ririn.

Ujian Berat 10 Finalis Menuju Tiga Besar

Dalam proses seleksi yang sangat transparan ini, setiap finalis hanya diberikan waktu 30 menit—terbagi atas 15 menit paparan dan 15 menit sesi tanya jawab—untuk meyakinkan tim juri.

Formasi juri diisi oleh para ahli di bidangnya, yakni Ketua IHGMA DPD Kaltim Ir. Wied Pratama, pemerhati budaya dari DPD IPPRISIA Marliana Wahyuningrum, serta akademisi pariwisata I Wayan Lanang Nala. Mereka bertugas menelanjangi setiap celah manajemen dan kesesuaian data dari para peserta.

Adapun 10 desa wisata yang tengah bertarung memperebutkan posisi Tiga Besar tersebut adalah

  • Desa Wisata Pampang (Kota Samarinda)
  • Desa Wisata Satimpo Indah (Kota Bontang)
  • Desa Wisata Hendrawisata Pesona Mangrove (Kota Balikpapan)
  • Desa Wisata Klempang Sari (Kabupaten Paser)
  • Desa Wisata Bangun Rejo (Kabupaten Kutai Kartanegara)
  • Desa Wisata Sangkuliman (Kabupaten Kutai Kartanegara)
  • Desa Wisata Lutan (Kabupaten Mahakam Ulu)
  • Desa Wisata Tanjung Isuy (Kabupaten Kutai Barat)
  • Desa Wisata Teluk Harapan (Kabupaten Berau)
  • Desa Wisata Bhuana Sari Bumi Rapak (Kabupaten Kutai Timur)

Setelah seluruh finalis melewati “sidang” presentasi dan validasi ini, dewan juri akan mengerucutkan penilaian untuk memilih tiga desa wisata terbaik. Ketiga desa terpilih tersebut nantinya akan menghadapi tahapan pamungkas, yakni visitasi lapangan, di mana tim juri akan turun langsung membuktikan apakah janji manis di ruang presentasi sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Bagikan:

Baca Juga