BENUANTA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyoroti fenomena maraknya kegaduhan di dunia maya akibat manipulasi sistem pada berbagai platform interaksi sosial. Masyarakat secara luas diingatkan agar tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi yang sengaja diciptakan untuk memicu keresahan publik.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur Muhammad Faisal menyebut sistem di balik aplikasi kini kerap menyetir pemikiran masyarakat. Pola algoritma digital secara otomatis membentuk narasi positif atau negatif yang berpotensi merusak objektivitas warga dalam mencerna isu.
Ketidakhadiran pemahaman literasi yang memadai membuat ruang diskusi publik justru didominasi oleh individu tanpa wawasan mendalam. Kondisi tersebut memancing kelompok yang tidak bertanggung jawab tampil ke permukaan guna menyebarkan narasi keliru secara masif.
“Ketika seseorang menjauh dari literasi, maka disaat orang-orang yang tidak kredibel justru merasa percaya diri untuk maju menyebarkan informasi,” ucapnya pada Rabu (3/6/26).
Ancaman Kebohongan Berulang
Pemahaman dunia digital saat ini mutlak dikuasai masyarakat sebagai pelindung dan benteng pertahanan paling utama. Pilar penting pelindung tersebut mencakup fondasi etika dasar, kebudayaan, perlindungan keamanan, hingga kemampuan keterampilan menyaring informasi.
Kelemahan pada fondasi utama itu kerap menjebak pengguna pada wacana keliru yang terus diproduksi tanpa henti di layar gawai. Informasi palsu yang beredar setiap saat pada akhirnya tanpa disadari akan diterima secara luas sebagai fakta kebenaran mutlak.
Pembiaran terhadap dominasi para penyebar konten menyesatkan ini diyakini membawa konsekuensi fatal bagi keharmonisan sosial. Oleh sebab itu setiap elemen masyarakat dituntut membangun kewaspadaan tingkat tinggi terhadap segala bentuk narasi yang bertebaran di depan mata.
“Ini yang berbahaya,” tegasnya.



