BENUANTA – Program pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) melalui inisiatif Gratispol telah membawa angin segar bagi dunia pendidikan di Kalimantan Timur. Di Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, sebanyak 1.300 mahasiswa telah merasakan langsung manfaat program ini. Namun, demi optimalisasi, kalangan mahasiswa berharap adanya intervensi lebih lanjut dari pemerintah terkait penanggungan biaya hidup harian.
Ancaman Putus Kuliah dan Usulan Living Cost
Tim Gratispol UINSI Samarinda Raihan menyampaikan bahwa survei internal menunjukkan mahasiswa sangat bergantung pada keberlanjutan program ini. Kekhawatiran terbesar dari para penerima manfaat adalah bayang-bayang ancaman putus kuliah jika bantuan pembebasan UKT tiba-tiba dihentikan.
Meski dinilai sudah sangat membantu, Raihan menyebut program Gratispol perlu terus dievaluasi agar dampaknya semakin paripurna. Ia secara spesifik mengusulkan agar Pemerintah Provinsi Kaltim turut memikirkan dukungan biaya hidup (living cost) bagi mahasiswa dari kelompok rentan dan kurang mampu.
“Berdasarkan estimasi, kebutuhan living cost mahasiswa itu mencapai sekitar Rp3,3 juta per bulan. Itu sudah mencakup kebutuhan harian dan biaya kos,” ungkap Raihan saat bersilaturahmi dengan Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji bersama Aliansi Dewan Mahasiswa (Dema) PTKIN se-Kalimantan.
Respons Wagub Kaltim dan Optimalisasi Asrama
Usulan konstruktif dari kalangan kampus ini langsung mendapat tanggapan dari Wakil Gubernur Kaltim H. Seno Aji. Ia mengapresiasi dukungan mahasiswa terhadap berjalannya program Gratispol dan memastikan pemerintah daerah akan terus melakukan evaluasi agar penyaluran bantuan semakin tepat sasaran.
Seno Aji mengungkapkan bahwa komitmen Pemprov Kaltim di sektor pendidikan terus digenjot. “Tahun ini kita akan memberikan bantuan biaya pendidikan bagi 159.000 mahasiswa,” jelasnya.
Terkait tuntutan bantuan uang saku atau biaya hidup bulanan, Wagub menegaskan bahwa Pemprov Kaltim tidak menutup mata. Pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk merumuskan formulasi yang tepat. Sementara itu, sebagai solusi strategis untuk menekan biaya hunian mahasiswa, pemerintah akan mengarahkan pemanfaatan asrama-asrama yang sudah ada, diiringi dengan program peningkatan fasilitas agar jauh lebih layak dan nyaman untuk ditinggali.



