BENUANTA – Grup idola K-Pop LE SSERAFIM tengah menjadi sorotan tajam dan memicu kemarahan publik setelah merilis cuplikan video musik terbaru mereka. Netizen melontarkan kritik keras lantaran konsep visual dalam video tersebut dinilai tidak sopan dan menyinggung keyakinan tertentu.
Grup yang bernaung di bawah payung HYBE ini rencananya akan meluncurkan album baru bertajuk PUREFLOW dalam waktu dekat. Sebagai langkah promosi mereka mengunggah cuplikan untuk lagu berjudul BOOMPALA ke berbagai media sosial resmi.
Namun gelombang kecaman langsung menyerang tak lama setelah video tersebut dibagikan kepada publik. Para penggemar dan pengamat budaya menilai konsep yang diusung merupakan bentuk perampasan budaya dan pelecehan terhadap agama Buddha.
Publik menyoroti gaya para anggota LE SSERAFIM yang seolah digambarkan menyerupai figur Buddha dalam video tersebut. Mereka juga mengkritik penggunaan elemen budaya India dan Timur Tengah yang dianggap tidak pada tempatnya.
Seorang pengguna media sosial menjelaskan bahwa pose yang dilakukan para anggota adalah ardha-padmasana atau pose setengah teratai. Pose ini diketahui berasal dari tradisi meditasi yoga India kuno yang mendahului agama Buddha formal.
Beberapa netizen bahkan mengaitkan kejadian ini dengan kontroversi sebelumnya yang pernah menimpa grup tersebut. Mereka menilai agensi dan para anggota seakan terobsesi untuk merendahkan simbol-simbol agama.
“Dulu menari di gereja, sekarang mengejek Buddha. Mengapa mereka sangat terobsesi tidak menghormati agama,” tulis seorang netizen di media sosial X.
Di tengah badai kritik tersebut sejumlah penggemar tetap berdiri di belakang LE SSERAFIM untuk memberikan pembelaan. Mereka membantah adanya unsur perampasan budaya atau pelecehan agama dalam video musik BOOMPALA.
Para pembela grup ini berargumen bahwa kritik yang dilontarkan netizen justru berakar pada xenofobia dan pelabelan stereotip yang sempit. Mereka menganggap para pengkritik gagal melihat kekayaan ragam budaya dan hanya mengaitkannya dengan gurun pasir atau unta.
Perdebatan mengenai batasan antara apresiasi seni dan eksploitasi budaya kini semakin memanas menjelang perilisan resmi album PUREFLOW. Hingga saat ini pihak agensi Source Music maupun HYBE belum memberikan pernyataan resmi terkait kontroversi ini.
“Yang lebih ironis adalah kalianlah yang bersikap xenofobia dengan membatasi semua budaya yang kaya dan beragam ini hanya pada gurun pasir dan beberapa unta,” bela seorang penggemar.



