BENUANTA – Laga tandang Manchester United ke markas Brentford akhir pekan ini bukan sekadar pertandingan biasa. Laga ini adalah sebuah pengingat menyakitkan akan momen tiga tahun lalu, saat kekalahan telak 4-0 di stadion yang sama disebut sebagai titik “dasar jurang” bagi klub.
Namun, waktu membuktikan bahwa para pengamat saat itu keliru. Momen memalukan pada 13 Agustus 2022 itu ternyata bukanlah dasar dari jurang, melainkan hanya awal dari sebuah periode keterpurukan yang lebih dalam dan lebih mahal.
Sejak kekalahan tersebut hingga akhir musim lalu, United telah menghabiskan lebih dari setengah miliar pound untuk belanja pemain. Hasilnya, mereka justru finis di posisi ke-15, pencapaian terburuk sejak terdegradasi pada musim 1973-74.
Rentetan hasil memalukan lainnya pun mengikuti, mulai dari kekalahan 7-0 dari Liverpool hingga takluk dari tim kasta keempat, Grimsby, di ajang piala domestik untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.
Misi Sulit Ruben Amorim
Kini, di bawah manajer baru Ruben Amorim, United kembali ke Brentford untuk mencoba mengambil langkah kecil keluar dari krisis. Sebuah kemenangan akan menjadi yang pertama kalinya bagi Amorim dalam meraih dua kemenangan liga secara beruntun.
Statistik yang mencengangkan itu menunjukkan betapa berat tugas yang diembannya. Amorim sendiri mengakui sulitnya membangun kembali mentalitas juara di klub sebesar Manchester United.
“Ini sangat sulit, tapi saya juga paham ini adalah klub yang berbeda, dengan tekanan yang berbeda di liga yang benar-benar berbeda,” ujar Amorim, Jumat (26/9/2025).
Ia secara jujur mengungkapkan perjuangannya untuk mengembalikan kebiasaan menang yang dulu begitu melekat dengan identitas klub ini.
“Perasaan menang dan menganggap kemenangan sebagai hal yang normal, saya sangat kesulitan dengan itu,” pungkasnya.



