BENUANTA – Aroma daun nipah kering menyelimuti sudut Kelurahan Mesjid di Samarinda Seberang. Menjelang perayaan Idulfitri kawasan yang dikenal luas sebagai Kampung Ketupat ini kembali menggeliat. Kesibukan para perajin bukan sekadar rutinitas musiman melainkan denyut nadi ekonomi yang kini jangkauannya semakin meluas ke berbagai penjuru daerah.
Dedikasi warga setempat dalam melestarikan warisan leluhur akhirnya berbuah manis saat Pemerintah Kota Samarinda menetapkan kawasan ini sebagai Kampung Wisata pada tahun dua ribu delapan belas. Status resmi tersebut rupanya membawa angin segar. Kini pemasaran anyaman ketupat tidak lagi terbatas di area lokal melainkan telah sukses menembus pasar antarkota mulai dari Balikpapan Bontang hingga Penajam Paser Utara.
Kualitas Tradisional Jadi Kunci Sukses
Keberhasilan ekspansi pasar antarkota ini tidak lepas dari kualitas dan keunikan produk yang terus dijaga ketat. Berbeda dengan pembuat ketupat pada umumnya perajin di sini setia menggunakan daun nipah yang didatangkan langsung dari kawasan muara sungai. Adelin Rahmawati salah satu perajin generasi ketiga menjelaskan bahwa daun harus dijemur selama dua sampai tiga hari demi memastikan kelenturan dan keawetannya.
Tingginya minat pembeli dari luar daerah membuat volume produksi melonjak tajam. Adelin mengaku mampu menjual hingga sepuluh ribu selongsong hanya dalam kurun waktu satu minggu terakhir menjelang hari kemenangan. Mereka telaten merangkai daun nipah menjadi beragam ukuran mulai dari yang mungil untuk sajian Coto Makassar dan Ketupat Kandangan hingga ukuran besar sebagai pendamping Soto Banjar.
Geliat ekonomi yang luar biasa ini diamini oleh perajin lainnya bernama Ramdhani. Ia mengungkapkan bahwa musim Lebaran adalah masa panen raya bagi warga setempat dengan omzet yang bisa meroket tajam. Dari modal bahan baku seharga lima puluh ribu rupiah per ikat yang disulap menjadi ratusan selongsong ketupat beberapa warga bahkan mampu mencetak penjualan hingga sepuluh juta rupiah hanya dalam rentang waktu libur Lebaran saja.



