BENUANTA – Pinjaman pribadi kini semakin mudah diakses, terutama bagi karyawan. Namun, kemudahan ini menjadi ironi karena data menunjukkan bahwa gaji besar tidak menjamin seseorang bebas dari jerat utang.
Survei dari Achieve Center for Consumer Insights menemukan bahwa satu dari tiga orang di dunia merasa kesulitan mengelola utang mereka. Angka ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan pada besaran gaji, melainkan pada cara utang itu dikelola.
Kunci Mencegah Jeratan Utang
Salah satu kesalahan klasik yang sering dilakukan adalah mengambil pinjaman baru untuk menutupi cicilan lama. Strategi “gali lubang tutup lubang” ini hanya akan membuat utang menumpuk dan beban cicilan bulanan semakin berat.
Para pakar finansial menyarankan agar pinjaman digunakan untuk hal-hal produktif. Contohnya seperti renovasi rumah, biaya pendidikan, atau modal usaha sampingan.
Sebaliknya, pinjaman untuk kebutuhan konsumtif, seperti membeli gadget terbaru atau liburan mewah, hanya akan membuat cicilan terasa menyesakkan tanpa memberikan manfaat jangka panjang.
Pentingnya memiliki dana darurat juga menjadi salah satu kunci. Banyak karyawan kesulitan membayar cicilan karena tidak memiliki cadangan dana saat keadaan mendesak datang.
Dengan pengelolaan yang bijak, pinjaman bisa menjadi bagian dari strategi finansial yang sehat. Produk pinjaman untuk karyawan seperti Neo Pinjam dari Bank Neo Commerce menawarkan solusi yang terukur.
Neo Pinjam menyediakan limit hingga Rp100 juta dengan tenor bervariasi sampai 24 bulan. Tenor yang lebih panjang membuat cicilan bisa disesuaikan dengan kemampuan gaji, sehingga arus kas bulanan tetap aman.
“Meskipun mudah dan cepat, setiap pengajuan tetap melalui evaluasi kelayakan untuk menjaga keamanan pengguna dan mencegah risiko kredit bermasalah,” kata pihak Bank Neo Commerce.


