BENUANTA – Dunia kini bersiap menghadapi guncangan besar di sektor energi setelah fasilitas gas alam cair (LNG) milik QatarEnergy lumpuh akibat serangan Iran. Hilangnya 17 persen kapasitas produksi tahunan Qatar diperkirakan akan memicu krisis pasokan global yang berlangsung selama tiga hingga lima tahun ke depan Jumat (20/3/26).
Lumpuhnya infrastruktur vital ini memaksa QatarEnergy menyatakan status force majeure atau keadaan darurat pada kontrak-kontrak jangka panjangnya. Hal ini menjadi kabar buruk bagi negara-negara importir yang selama ini bergantung penuh pada aliran gas dari Doha untuk kebutuhan industri dan listrik mereka.
Daftar Negara yang Paling Terdampak
Sejumlah negara maju dan berkembang kini berada di zona merah ketahanan energi. Di Eropa, Italia dan Belgia menjadi negara yang paling rentan karena porsi impor LNG Qatar yang sangat besar dalam bauran energi mereka. Gangguan ini diprediksi akan mendongkrak harga listrik di wilayah tersebut dalam waktu dekat.
Sementara itu di Asia, raksasa ekonomi seperti China, Korea Selatan, dan Taiwan juga menghadapi ancaman serupa. Sebagai konsumen energi terbesar, terhentinya pasokan dari Qatar akan memaksa negara-negara ini berebut stok gas di pasar spot yang harganya jauh lebih mahal dan kompetitif.
Ancaman Terhentinya Produksi Industri Global
Hilangnya kapasitas sebesar 13,2 juta ton per tahun (mtpa) ini bukan hanya masalah penerangan rumah tangga, tetapi juga menyentuh sektor manufaktur. Industri berat di negara-negara importir terancam melakukan pengurangan produksi jika biaya energi terus melambung akibat kelangkaan stok.
Para analis energi memperingatkan bahwa ketergantungan global pada LNG Qatar selama ini tidak memiliki cadangan alternatif yang sepadan. Butuh waktu bertahun-tahun bagi produsen lain seperti Amerika Serikat atau Australia untuk menutup celah besar yang ditinggalkan oleh kerusakan fasilitas di Qatar tersebut.
Respons Pasar Energi Internasional
Seorang pengamat pasar energi global menyebutkan bahwa serangan ini telah merusak keseimbangan pasokan yang selama ini relatif stabil. Ia menilai keputusan QatarEnergy untuk menyatakan status darurat selama lima tahun ke depan adalah sinyal bahwa kerusakan yang terjadi sangat masif dan permanen.
“Pasar energi dunia saat ini sedang berada dalam kondisi panik karena tidak ada negara lain yang siap menggantikan volume gas sebesar itu secara instan,” ujar pengamat tersebut.
Di sisi lain, perwakilan dari salah satu negara importir di Asia menyatakan keprihatinannya atas dampak domino yang akan ditimbulkan terhadap inflasi dalam negeri. Menurutnya, kenaikan biaya energi akan langsung memicu kenaikan harga barang dan jasa di tingkat konsumen.
“Kami harus segera mencari sumber pasokan alternatif, namun realitanya pasar global saat ini sudah sangat sesak dan terbatas,” kata dia.



