BENUANTA – Suasana berbeda terlihat di kawasan Jalan Gajah Mada, Samarinda, saat ribuan massa dari Drupadi Baladika Kaltim turun ke jalan membawa pesan damai melalui aksi budaya dan pembagian bunga mawar kepada masyarakat.
Di tengah maraknya demonstrasi yang beberapa pekan terakhir berlangsung di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur, aksi tersebut tampil dengan pendekatan berbeda tanpa orasi keras maupun tuntutan politik terbuka.
Sejak pagi, peserta aksi mulai memadati kawasan sekitar kantor gubernur dengan mengenakan pakaian adat dari berbagai suku di Kalimantan Timur.
Beragam budaya tampak membaur dalam satu barisan, mulai dari Dayak, Kutai, Banjar, Bugis hingga Jawa. Massa juga membawa spanduk berisi ajakan menjaga persatuan dan ketenangan daerah.
Selain itu, pertunjukan seni budaya digelar secara terbuka di tepi jalan raya dan menarik perhatian masyarakat yang melintas.
Tarian tradisional dipentaskan bergantian diiringi musik daerah yang membuat suasana aksi terasa lebih cair dibanding demonstrasi-demonstrasi sebelumnya.
Ketua Drupadi Baladika Kaltim, Lilis Latif, mengatakan aksi damai tersebut sengaja dikemas dalam nuansa budaya sebagai simbol persatuan masyarakat Kalimantan Timur.
Menurutnya, keberagaman yang dimiliki masyarakat Kaltim harus dijaga agar tidak berubah menjadi sumber perpecahan di tengah meningkatnya tensi sosial.
“Semua suku dan budaya hadir di sini. Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan justru menjadi kekuatan untuk menjaga kedamaian,” ujarnya.
Sekitar 1.600 peserta disebut ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Massa juga membagikan seribu tangkai bunga mawar kepada pengguna jalan sebagai simbol ajakan menjaga suasana damai.
Aksi simpatik itu langsung menarik perhatian masyarakat. Banyak pengendara memperlambat kendaraan untuk menerima bunga dari peserta aksi.
Tidak sedikit warga yang mengabadikan suasana tersebut menggunakan telepon genggam mereka.
Berbeda dengan demonstrasi sebelumnya yang mendapat pengawalan ketat aparat, kegiatan Drupadi Baladika berlangsung lebih santai dan penuh interaksi dengan masyarakat.
Peserta aksi terlihat beberapa kali berjoget mengikuti musik tradisional sambil terus membagikan mawar kepada warga.
Lilis menegaskan pihaknya tidak menolak aksi demonstrasi maupun kritik terhadap pemerintah. Menurutnya, kebebasan menyampaikan pendapat merupakan hak masyarakat yang dijamin undang-undang.
Namun ia mengingatkan agar situasi sosial tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang dapat merugikan masyarakat luas.
“Silakan menyampaikan aspirasi, tetapi jangan sampai ada pihak yang memecah belah persatuan masyarakat,” tegasnya.
Ia menilai Kalimantan Timur saat ini berada pada posisi penting sebagai daerah penyangga utama pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Karena itu, stabilitas sosial dan keamanan daerah harus dijaga bersama.
“Yang paling penting Kaltim tetap damai dan masyarakatnya tetap bersatu,” katanya.
Belakangan, kawasan Kantor Gubernur Kaltim memang menjadi titik konsentrasi berbagai aksi massa dari mahasiswa, kelompok masyarakat sipil hingga organisasi tertentu.
Sejumlah demonstrasi bahkan sempat memicu kemacetan di pusat Kota Samarinda dan mendapat pengamanan ketat aparat kepolisian.
Kondisi tersebut memunculkan beragam respons di tengah masyarakat. Sebagian mendukung demonstrasi sebagai bentuk kontrol terhadap pemerintah, sementara lainnya mulai khawatir terhadap dampak sosial apabila aksi berlangsung terus-menerus.
Di tengah situasi itu, aksi budaya yang digelar Drupadi Baladika dianggap menghadirkan warna berbeda dalam dinamika ruang publik di Samarinda.
Alih-alih menggunakan pengeras suara dan orasi politik, mereka memilih pendekatan simbolik melalui seni, budaya, dan interaksi langsung dengan masyarakat.
Bagi sebagian warga, pembagian mawar dan pertunjukan budaya tersebut menghadirkan suasana lebih teduh di tengah meningkatnya ketegangan sosial beberapa waktu terakhir.
Aksi damai itu akhirnya berakhir menjelang siang dalam kondisi tertib setelah seluruh bunga mawar dibagikan kepada masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.
(Redaksi)



