Tembus 2 Ton Per Hari ke Luar Daerah, Gideon Andris Minta Revitalisasi TPI Tanjung Batu Jadi Hub Perikanan Kalimantan

Bisnis

TPI Tanjung Batu Berau.
TPI Tanjung Batu Berau.

BENUANTA – Potensi sektor perikanan di Kabupaten Berau kini dinilai bukan lagi sekadar pemenuh kebutuhan meja makan lokal.

Namun telah bertransformasi menjadi pilar strategis distribusi pangan di Pulau Kalimantan. 

Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris, menyoroti besarnya volume produksi ikan Bumi Batiwakkal yang mengalir deras ke berbagai daerah tetangga. 

Namun, ia memperingatkan, kejayaan produksi ini harus segera dibarengi dengan penguatan infrastruktur hilir, terutama optimalisasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Gideon mengungkapkan, setelah kebutuhan konsumsi masyarakat Berau tercukupi, surplus hasil tangkapan nelayan yang dikirim ke daerah luar seperti Malinau, Samarinda, hingga Bulungan sangatlah fantastis. 

Kapasitas pengiriman ini menjadi bukti nyata bahwa Berau adalah lumbung protein laut yang vital. 

“Selama ini kita lihat produksi ikan cukup tinggi. Bahkan setelah kebutuhan lokal terpenuhi, distribusi ke luar daerah seperti Malinau, Samarinda hingga Bulungan bisa mencapai 1 sampai 2 ton per hari. Ini potensi besar yang harus kita kelola dengan baik,” ungkap Gideon, Rabu (25/3/2026).

Keberadaan TPI yang representatif dianggap sebagai kunci utama dalam menjaga rantai pasok sekaligus mempertahankan kualitas mutu ikan sebelum sampai ke tangan konsumen.

Salah satu titik yang menjadi perhatian serius legislatif adalah TPI Tanjung Batu. 

Lokasi ini dinilai memiliki posisi geografis yang sangat strategis namun masih terkendala oleh fasilitas yang belum memadai. 

Gideon menekankan, modernisasi fasilitas akan membuat aktivitas bongkar muat menjadi lebih terpusat dan efisien.

Peningkatan infrastruktur ini diharapkan tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga sistem manajemen di dalamnya. 

Dengan fasilitas yang lengkap, kontrol terhadap kesegaran ikan dan standarisasi harga dapat dilakukan dengan lebih baik. 

“Kalau fasilitas di TPI lengkap, maka aktivitas bongkar muat dan pemasaran bisa terpusat di sana. Ini akan membuat distribusi lebih tertata, efisien dan kualitas ikan tetap terjaga,” jelasnya.

Gideon juga mendorong adanya langkah persuasif agar para nelayan maupun pedagang ikan mulai mengalihkan seluruh aktivitas perdagangannya secara terpusat di TPI. 

Langkah ini bertujuan untuk membentuk ekosistem perikanan yang lebih terstruktur.

Sehingga para pelaku usaha kecil tidak lagi dipermainkan oleh fluktuasi harga yang tidak menentu. 

Sistem satu pintu di TPI diyakini akan menciptakan harga yang lebih kompetitif dan transparan.

Efek domino dari tertatanya ekosistem ini adalah meningkatnya nilai tambah bagi para nelayan lokal. 

Ketika hasil tangkapan masuk ke sistem yang teratur, kesejahteraan nelayan akan terkerek naik seiring dengan kepastian pasar yang lebih luas. 

“Dengan sistem yang lebih baik, ikan hasil tangkapan nelayan bisa langsung masuk ke TPI dan dipasarkan dengan harga yang lebih kompetitif. Ini tentu berdampak pada peningkatan kesejahteraan nelayan,” tambahnya optimis.

Dengan dukungan infrastruktur yang mumpuni dan pengelolaan yang terarah, DPRD Berau optimistis sektor perikanan daerah akan menjadi primadona baru di luar sektor pertambangan. 

Cita-cita menjadikan Berau sebagai pemasok utama bagi wilayah lain di Kalimantan kini tinggal selangkah lagi.

Asalkan pemerintah daerah serius dalam membenahi fasilitas penunjang bagi para pahlawan protein laut tersebut.

Sektor perikanan yang kuat tidak hanya akan memperkokoh ketahanan pangan daerah, tetapi juga akan menjadi daya tarik investasi baru yang berkelanjutan. 

Fokus pada hilirisasi perikanan melalui TPI diharapkan menjadi warisan pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir Berau dalam jangka panjang. (Adv)

Bagikan:

Baca Juga