BENUANTA — Fenomena meningkatnya intensitas penggunaan ponsel pintar pada anak usia dini kini tengah menjadi perhatian serius dari berbagai kalangan di Kabupaten Berau.
Masalah ini tidak lagi bisa dipandang sebelah mata sebagai sekadar kebiasaan hiburan, melainkan telah berkembang menjadi tantangan nyata dalam proses tumbuh kembang anak.
Terutama di tengah minimnya pengawasan serta terbatasnya alternatif aktivitas positif di lingkungan sekitar.
Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, menilai tantangan zaman ini harus dijadikan momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, penanganan ketergantungan gawai pada anak tidak bisa hanya dibebankan kepada pundak orang tua dan sekolah.
Namun membutuhkan dukungan penuh dari ekosistem pendidikan yang jauh lebih luas.
“Harus ada edukasi. Ada waktunya,” ujar Sumadi.
Sumadi menjelaskan, peran aktif komunitas pendidikan dan masyarakat sekitar sangat krusial dalam menyediakan ruang aktivitas yang ramah anak.
Keberadaan fasilitas publik, seperti taman belajar, ruang baca komunal, hingga wadah kegiatan seni dinilai sangat mampu menjadi alternatif untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari layar ponsel harian mereka.
Sumadi juga menekankan, penguatan metode pembelajaran yang kreatif di lingkungan sekolah perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas serta kapasitas para tenaga pendidik.
Guru di sekolah dituntut untuk lebih inovatif dalam menghadirkan sistem pembelajaran yang menarik di dalam kelas.
Sehingga, anak-anak tidak melulu bergantung pada hiburan berbasis digital semata untuk mengisi waktu mereka.
Pada sisi domestik, program literasi digital bagi para orang tua juga menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai persoalan ini.
Pasalnya, pengawasan terhadap penggunaan gawai paling banyak terjadi di luar jam sekolah, yaitu di lingkungan rumah.
Dengan tingkat pemahaman literasi digital yang memadai, orang tua diharapkan mampu mengatur dan menjadwalkan waktu penggunaan ponsel secara bijak tanpa harus menghambat daya kreativitas anak.
Penerapan pendekatan yang lebih intensif, terstruktur, dan menyeluruh diyakini bakal mampu menciptakan lingkungan belajar yang sehat serta seimbang bagi masa depan anak.
Langkah preventif ini dinilai sangat penting agar anak-anak di Bumi Batiwakkal tetap tumbuh menjadi pribadi yang aktif, kreatif, dan memiliki kecerdasan interaksi sosial yang baik di dunia nyata.
Melalui komitmen kolaborasi yang solid antara institusi keluarga, sekolah, dan seluruh elemen masyarakat, tingkat ketergantungan anak terhadap gawai secara bertahap dapat ditekan.
Langkah kolektif ini sekaligus membuka ruang selebar-lebarnya bagi tumbuhnya generasi muda Berau yang lebih adaptif, sehat, dan berdaya saing tinggi di masa depan.
“Pendekatan intensif diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat,” tandasnya. (Adv/DPRD Berau)




