Pasar Saham Global Terguncang Penutupan Jalur Logistik Selat Hormuz

Muflihah

BENUANTA Gejolak hebat melanda pasar saham global menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan jalur logistik vital di Selat Hormuz. Situasi ini memicu aksi jual masif di berbagai bursa utama Asia hingga Eropa karena kekhawatiran terhentinya pasokan energi dunia pada Jumat (6/3/26).

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang mencatat penurunan tajam sebesar 1,8 persen yang merupakan level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Di saat yang sama, indeks Nikkei Jepang merosot lebih dari 2 persen karena ketergantungan negara tersebut pada impor minyak mentah dari kawasan teluk yang kini terhambat.

Kepanikan pasar semakin menjadi setelah Iran secara resmi menghentikan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz sebagai respons atas serangan udara Israel. Langkah ini dianggap sebagai ancaman serius bagi pemulihan ekonomi global yang baru saja stabil.

Dampak Penutupan Jalur Logistik Dunia

Analis pasar modal melihat penutupan Selat Hormuz bukan sekadar masalah energi namun juga gangguan rantai pasok global yang sistematis. Selain minyak, jalur ini merupakan urat nadi bagi pengiriman gas alam cair dan komoditas penting lainnya menuju pasar internasional.

Ketidakpastian ini memaksa para investor untuk menarik modal mereka dari aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset aman. Dolar Amerika Serikat dan emas tercatat mengalami penguatan signifikan di tengah rontoknya indeks harga saham gabungan di berbagai negara.

Tekanan jual ini diperkirakan masih akan berlanjut selama ketegangan militer di kawasan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi. Para pelaku pasar kini menunggu respons resmi dari Gedung Putih dan sekutunya mengenai jaminan keamanan jalur perdagangan internasional.

Barkin menegaskan bahwa gangguan pada jalur logistik global ini akan memaksa bank sentral untuk meninjau kembali kebijakan suku bunga mereka guna meredam inflasi yang dipastikan melonjak ujar dia.

“Pasar bereaksi terhadap risiko sistemik yang sangat nyata jika blokade ini berlangsung dalam jangka panjang,” kata Tom Barkin.

Bagikan:

Baca Juga