Warga Batuah Minta Pemerintah Selidiki Keterkaitan Aktivitas Tambang dengan Longsor

Fathur

Warga Batuah Minta Pemerintah Selidiki Keterkaitan Aktivitas Tambang dengan Longsor

Benuanta.id – Warga Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, mendesak pemerintah untuk segera mengusut tuntas penyebab bencana tanah longsor yang terjadi di Dusun Tani Jaya. Insiden yang menghancurkan 11 rumah warga ini diduga kuat berkaitan dengan aktivitas tambang batu bara dan pengeboran sumur yang masif di sekitar pemukiman. Bencana yang terjadi pada akhir Mei itu telah menimbulkan keresahan mendalam di masyarakat, khususnya terkait keselamatan hunian mereka di masa mendatang. Mereka khawatir longsor susulan dapat kembali terjadi mengingat beroperasinya sejumlah perusahaan tambang di dekat lokasi.

Kepala Desa Batuah, Abdul Rasyid, menjelaskan bahwa desakan penyelidikan ini merupakan respons dari keluhan langsung yang disampaikan oleh warga. Menurutnya banyak laporan yang mengindikasikan adanya kaitan antara bencana longsor dengan operasi tambang dan pengeboran yang terus berlangsung. Warga merasa khawatir dan menganggap kegiatan tersebut sebagai ancaman serius bagi keselamatan mereka. Rasyid juga mengungkapkan bahwa pemerintah desa tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan kewenangan. Pihaknya hanya bisa meneruskan aspirasi dan keluhan masyarakat ke pihak-pihak berwenang di tingkat kabupaten hingga provinsi.

“Masyarakat menyampaikan berbagai keluhan. Beberapa mengaitkan kejadian ini dengan aktivitas tambang dan pengeboran di sekitar,” kata Rasyid.

Untuk menjawab kekhawatiran warga dan mendapatkan kepastian ilmiah, pemerintah Desa Batuah telah bekerja sama dengan tim teknis dari Universitas Mulawarman (Unmul). Tim ini telah melakukan kajian di lokasi kejadian dan memasang sejumlah alat ukur untuk memantau pergerakan tanah. Hasil kajian dari tim ahli dijadwalkan akan keluar dalam waktu satu minggu ke depan. Data ilmiah ini diharapkan dapat menjadi dasar kuat bagi pemerintah untuk mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan yang beroperasi di sekitar Desa Batuah jika terbukti menjadi penyebab bencana.

“Kami sudah usulkan relokasi sementara, tapi warga lebih memilih tenda di depan rumah,” tambah Rasyid.

Keputusan warga untuk bertahan di tenda di depan rumah mereka juga menunjukkan adanya keterikatan emosional dan ketidaknyamanan untuk meninggalkan tempat tinggal. Meski ditawari relokasi sementara, sebagian besar korban memilih untuk tetap berada di dekat puing-puing rumah mereka. Sikap ini juga menjadi cerminan bahwa mereka masih menunggu kepastian dari pemerintah terkait nasib mereka dan tanggung jawab perusahaan yang diduga menjadi pemicu bencana. Hingga saat ini, aktivitas pertambangan di sekitar Desa Batuah masih terus beroperasi.

“Kami belum dapat mengambil tindakan atas aktivitas perusahaan tambang karena keterbatasan kewenangan, dan hanya bisa menyampaikan aspirasi kepada instansi berwenang,” ujar Rasyid.  (Mam/Adv/DiskominfoKukar)

Bagikan:

Baca Juga