Resmikan Layanan 24 Jam di Gunung Tabur, Bupati Berau Tekankan Pelayanan Humanis Tanpa Diskriminasi

Fathur

BENUANTA – Pemerintah Kabupaten Berau memperluas jangkauan layanan kesehatan di wilayah perkotaan. Bupati Berau Sri Juniarsih Mas meresmikan operasional Puskesmas Non-Rawat Inap 24 Jam dan Pelayanan Persalinan di Kecamatan Gunung Tabur, Senin (10/11/2025).

Dalam momen tersebut, Sri Juniarsih memberikan instruksi tegas kepada seluruh tenaga kesehatan. Ia meminta agar fasilitas gedung yang representatif ini diimbangi dengan pelayanan yang humanis dan berkeadilan tanpa memandang latar belakang pasien.

Dilarang Tolak Pasien

Bupati menekankan bahwa fungsi utama puskesmas adalah misi kemanusiaan. Ia tidak ingin mendengar adanya kasus penolakan pasien hanya karena alasan ketidakmampuan biaya atau kendala administrasi.

Menurutnya, keselamatan nyawa harus menjadi prioritas di atas segalanya.

“Saya sangat berharap agar Puskesmas ini beroperasi dengan semangat membantu masyarakat, tanpa melihat kemampuan ekonomi. Jangan sampai ada pasien ditolak karena tidak mampu membayar atau terkendala administrasi,” tegas Sri Juniarsih.

Peringatan ini sejalan dengan capaian Kabupaten Berau yang telah meraih Universal Health Coverage (UHC) Award Tahun 2024 kategori Madya. Prestasi ini menjadi bukti bahwa negara telah menjamin akses kesehatan bagi warganya.

Oleh karena itu, Sri meminta tidak ada lagi pembedaan perlakuan antara pasien BPJS dan non-BPJS.

“Pencapaian UHC ini harus diimbangi dengan pelayanan yang humanis dan berkeadilan. Jadikan layanan kesehatan masyarakat sebagai visi utama dalam setiap langkah,” pesannya.

Siaga Gawat Darurat

Sementara itu, Kepala Puskesmas Gunung Tabur I Made Mahendra menjelaskan teknis operasional layanan 24 jam tersebut. Unit Gawat Darurat (UGD) difokuskan untuk menangani pasien kondisi darurat dan persalinan normal.

Pihaknya menyiagakan dua unit ambulans untuk layanan penjemputan pasien emergency.

“Pasien darurat saja, kalau sakit kepala atau demam, dilayani di poli umum,” ucapnya.

Untuk mendukung layanan ini, puskesmas mengatur jadwal jaga bergiliran. Setiap shift dijaga minimal empat petugas yang terdiri dari satu dokter serta tiga perawat dan bidan.

Meski demikian, Made mengakui pihaknya masih menghadapi tantangan keterbatasan SDM. Dari total 60 tenaga yang ada, mereka harus membagi tugas antara pelayanan dalam gedung, administrasi, hingga sosialisasi ke lapangan.

“Dokter ada 3 orang, bidan 12 orang, dan perawat ada 8 orang. Sisanya harus bekerja juga di luar ruangan untuk sosialisasi,” ungkapnya. (Adv)

Bagikan:

Baca Juga