BENUANTA – Selama ini, ancaman perubahan iklim terhadap sumber daya air di Indonesia sering kali hanya identik dengan masalah kuantitas, seperti kekeringan panjang atau banjir bandang. Namun, sebuah kajian literatur terbaru dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap sisi lain yang tak kalah krusial: ancaman serius terhadap kualitas air di Daerah Aliran Sungai (DAS).
Tastaptyani Kurnia Nufutomo, peneliti dari Program Studi Doktor Teknik Lingkungan ITB, menjelaskan bahwa perubahan iklim ekstrem yang ditandai dengan anomali suhu dan pergeseran pola curah hujan memiliki korelasi langsung terhadap keseimbangan kimia dan biologi air sungai.
Suhu Bumi Naik, Kadar Oksigen Air Turun
Data BMKG menunjukkan bahwa tahun 2016 dan 2020 menjadi tahun terpanas di Indonesia. Kenaikan suhu udara ini secara otomatis meningkatkan suhu air sungai. Dampaknya bukan sekadar air menjadi lebih hangat, melainkan terjadinya penurunan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO).
“Peningkatan suhu air berdampak pada kinetika reaksi kimia dan penurunan status mutu ekologi air tawar,” tulis Tastaptyani dalam kajiannya. Kondisi ini diperparah dengan fenomena pemanasan global yang mempercepat pelepasan logam berat dari sedimen ke permukaan air, yang membahayakan biota sungai dan kesehatan manusia.
Ancaman Nutrien dan Perubahan Tata Guna Lahan
Menggunakan analisis bibliometrik VOSviewer, kajian ini menemukan adanya “celah” besar dalam penelitian kualitas air di Indonesia, yaitu pengaruh perubahan tata guna lahan (land use change) dan beban nutrien seperti fosfor serta nitrogen di bawah tekanan iklim.
Saat intensitas hujan meningkat akibat perubahan iklim, terjadi proses “pembilasan” massal. Zat organik, sedimen, dan sisa pupuk dari lahan pertanian terhanyut masuk ke badan sungai. Fenomena ini memicu eutrofikasi atau penyuburan perairan yang berlebihan, yang justru merusak kualitas air baku.
Menuju Ketahanan Air yang Adaptif
Di Indonesia, peraturan mengenai pengelolaan sumber daya air sebenarnya sudah cukup kuat, mulai dari UU No. 17 Tahun 2019 hingga PP No. 22 Tahun 2021. Namun, tantangan terbesarnya adalah mengintegrasikan variabel iklim ke dalam monitoring rutin kualitas air.
Konsep Water Sensitive City atau kota sensitif air menjadi salah satu solusi yang ditawarkan. Strategi ini menekankan pada ketahanan infrastruktur yang integratif, seperti sistem drainase berkelanjutan yang mampu menahan limpasan polutan sekaligus beradaptasi dengan bencana iklim.
Melalui pemodelan seperti SWAT (Soil and Water Assessment Tool) dan Qual2kW, para peneliti berharap dapat memprediksi kondisi kualitas air di masa depan secara lebih akurat. Tujuannya satu: memastikan air sungai di Indonesia tetap layak konsumsi dan ekosistem perairan tetap lestari meski di tengah fenomena perubahan iklim yang kian ekstrem.



