BENUANTA – Memasuki puncak musim hujan pada akhir tahun ini masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Pemahaman mengenai perbedaan karakteristik antara banjir biasa dan banjir bandang menjadi kunci keselamatan nyawa.
Seringkali warga terlambat melakukan evakuasi karena salah mengidentifikasi jenis ancaman yang datang. Padahal kedua jenis banjir ini memiliki tanda tanda dan prosedur penyelamatan diri yang sangat berbeda.
Banjir biasa umumnya terjadi karena hujan dengan durasi lama atau luapan sungai akibat drainase yang buruk di perkotaan dan dataran rendah. Karakteristik utamanya adalah air yang naik secara perlahan dan arusnya relatif tenang.
Dalam situasi ini masyarakat masih memiliki jeda waktu untuk menyelamatkan harta benda. Langkah mitigasi yang disarankan adalah menaikkan barang barang ke tempat yang lebih tinggi serta mematikan aliran listrik dan gas.
Ancaman Arus Deras
Berbeda halnya dengan banjir bandang yang datang secara tiba tiba dengan kekuatan merusak yang jauh lebih besar. Bencana ini biasanya dipicu oleh hujan ekstrem di wilayah hulu sungai dan umum terjadi di area pegunungan atau lereng gunung api.
Arus banjir bandang sangat deras karena membawa material berbahaya seperti batu lumpur dan batang pohon. Hal yang paling menipu adalah kondisi cuaca di lokasi kejadian bisa saja cerah namun bahaya mengintai dari hulu.
Badan penanggulangan bencana mengingatkan masyarakat untuk peka terhadap tanda alam seperti suara gemuruh dari arah sungai. Jika tanda ini muncul prioritas utama bukan lagi menyelamatkan barang melainkan nyawa.
“Hujan lebat di hulu sama dengan bahaya di hilir jadi segera matikan listrik ambil tas siaga dan menjauh dari sungai sekarang juga,” tegas imbauan mitigasi bencana tersebut, Minggu (28/12/2025).



