BENUANTA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau kembali menekankan pentingnya menjaga kelestarian hutan di tengah maraknya aktivitas tambang dan alih fungsi lahan. Wakil Bupati Berau, Gamalis, menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa ditangani sepihak, melainkan harus menjadi tanggung jawab seluruh elemen, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga pihak swasta.
Gamalis menyebut, berkurangnya tutupan hutan di Bumi Batiwakkal sudah terlihat jelas dan jika tidak segera ditangani, akan mengancam kualitas lingkungan serta kehidupan masyarakat di masa mendatang.
“Hutan adalah sumber kehidupan kita bersama. Udara yang kita hirup sangat dipengaruhi oleh keberadaan hutan. Karena itu, menjaga kelestariannya bukan pilihan, melainkan kewajiban,” ujarnya/
Ia menilai, keberadaan organisasi lingkungan memiliki peran strategis, terutama dalam gerakan penghijauan. Namun, ia mengingatkan agar organisasi tersebut tidak berhenti hanya pada kegiatan simbolis atau seremonial.
“Kami ingin melihat program yang benar-benar dijalankan secara konsisten. Aksi nyata jauh lebih penting dibanding sekadar seremoni pelantikan,” tegas Gamalis.
Lebih lanjut, ia menyoroti dampak kerusakan hutan yang semakin terasa akibat pertambangan batu bara di wilayah Berau. Menurutnya, kondisi ini perlu direspons serius dengan langkah kolektif, agar kerusakan tidak meluas dan menimbulkan bencana ekologis.
“Sudah banyak kawasan di Berau yang dieksploitasi. Karena itu, kita harus bekerja sama untuk memperbaiki keadaan. Pemerintah daerah tentu sangat menghargai organisasi lingkungan yang sungguh-sungguh berkontribusi,” katanya.
Gamalis optimistis, jika ada kerja sama yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi lingkungan, kawasan hutan yang rusak bisa dipulihkan kembali. Ia juga berharap komitmen ini bisa menjadi bekal berharga bagi Berau dalam menjaga identitasnya sebagai daerah kaya hutan hingga menuju masa keemasan Indonesia pada 2045. (Adv)




