BENUANTA – Eberechi Eze telah kembali ke rumah. Ia resmi menandatangani kontrak jangka panjang dengan Arsenal, klub masa kecilnya, dan mewarisi nomor punggung keramat 10. Namun di balik kepulangannya yang manis ini, tersimpan sebuah kisah perjuangan luar biasa selama 14 tahun.
Jalan yang ia tempuh untuk kembali ke London Utara tidaklah mudah. Ada momen di mana ia berkali-kali ditolak, bahkan nyaris menyerah pada mimpinya untuk menjadi pegawai supermarket.
Mimpi yang Patah di Usia Muda

Perjalanan Eze dimulai pada tahun 2006. Sebagai seorang penggemar Arsenal dari keluarga Gooners, bergabung dengan akademi klub adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Namun, mimpi itu harus patah saat ia dilepas oleh klub pada usia 13 tahun.
Setelah itu, pintu seolah terus tertutup baginya. Ia sempat bergabung dengan akademi Fulham dan Millwall, namun keduanya juga melepasnya. Uji coba di Bristol City dan Sunderland pun tak membuahkan hasil.
Meski menghadapi penolakan demi penolakan, Eze mengaku keyakinan dan cintanya pada sepak bola tidak pernah padam. Ia menjelaskan bahwa momen-momen sulit itu justru memberinya kekuatan.
“Itu tidak berarti tidak sulit. Saya ingat berpikir: ‘mengapa ini begitu sulit?’ Tapi kecintaan pada sepak bola tidak pernah, tidak pernah berubah,” ujarnya.

Titik Terendah dan Panggilan Tak Terduga
Setelah serangkaian kegagalan, Eze berada di titik terendahnya. Ia sudah bersiap untuk mendaftar ke perguruan tinggi dan berencana untuk mulai bekerja paruh waktu di sebuah supermarket Tesco untuk menyambung hidup.
Saat mimpinya hampir terkubur, sebuah panggilan tak terduga datang. Queen’s Park Rangers (QPR) memberinya satu kesempatan terakhir pada Agustus 2016. Kesempatan itulah yang akhirnya menyelamatkan karier sepak bolanya dan menjadi titik baliknya.

Lahirnya Bintang di Crystal Palace
Dari QPR, karier Eze terus menanjak. Setelah masa peminjaman yang impresif di Wycombe Wanderers, ia menjadi pemain andalan di QPR, yang kemudian membawanya pindah ke panggung tertinggi, Liga Primer Inggris, bersama Crystal Palace.
Di Crystal Palace, ia benar-benar menjelma menjadi bintang. Puncaknya adalah saat ia menjadi pahlawan dengan mencetak satu-satunya gol di final Piala FA, memberikan trofi mayor pertama dalam sejarah klub dan mengukuhkan namanya sebagai legenda di London Selatan.
14 Tahun Kemudian, Sebuah Kepulangan
Kini, setelah 14 tahun menempuh perjalanan yang berliku, Eze akhirnya kembali ke klub yang pertama kali ia cintai.
Ia pulang bukan lagi sebagai bocah akademi yang penuh harap, melainkan sebagai pemain internasional Inggris, seorang pahlawan Wembley, dan pemilik baru nomor punggung 10 Arsenal yang ikonik.



