BENUANTA – Kepergian Kylian Mbappe ke Real Madrid tak membuat Paris Saint-Germain (PSG) melemah. Justru sebaliknya. Klub asal Prancis itu kini menjelma menjadi kekuatan baru yang jauh lebih mengerikan di sepak bola Eropa.
Luis Enrique berhasil mengubah wajah PSG menjadi tim yang kolektif, cepat, dan mematikan. Tidak ada lagi dominasi satu pemain di lini depan. Kini, ada kekuatan merata yang mengandalkan kecepatan dan kerja sama antarlini.
Hal itu kembali terbukti saat PSG melumat Real Madrid 4-0 di semifinal Club World Cup yang digelar di Amerika Serikat. Sebelumnya, mereka juga membantai Inter Milan 5-0 di final Liga Champions, serta menumbangkan Atletico Madrid dan Bayern Munich dengan skor mencolok.
PSG bahkan mencetak tiga gol hanya dalam waktu 24 menit lewat dua gol Fabian Ruiz dan satu dari Ousmane Dembele. Goncalo Ramos menutup kemenangan mereka menjelang akhir pertandingan.
Para pemain baru seperti Dembele, Desire Doue, dan Khvicha Kvaratskhelia tampil menggila. Sementara trio Joao Neves, Vitinha, dan Ruiz mengendalikan lini tengah dengan sempurna.
“Ketika tiga gelandang itu mengatur permainan seperti ini, tidak ada yang bisa menghentikan mereka,” ujar John Obi Mikel.
Permainan PSG juga makin sulit diprediksi dengan dukungan dua bek sayap ofensif, Achraf Hakimi dan Nuno Mendes, yang terus naik-turun tanpa lelah.
Luis Enrique membuktikan dirinya bukan sekadar pelatih elite. Setelah membawa PSG menjuarai Ligue 1, Piala Prancis, dan Liga Champions, kini ia hanya tinggal satu langkah lagi merebut trofi keempat di musim ini. Bila menang atas Chelsea di final Club World Cup, PSG akan meraih empat gelar utama, belum termasuk Trophee des Champions.
Kepergian Mbappe, yang sempat dianggap kehilangan besar, ternyata membuka ruang untuk pendekatan permainan yang lebih kolektif dan mendalam.
“Luis Enrique telah menciptakan monster,” ujar Andros Townsend.
Sementara Gareth Bale menambahkan, “Mereka sangat muda, tak kenal ampun, dan ingin mempermalukan lawan-lawannya.”



