BENUANTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperkirakan musim kemarau di Indonesia akan mulai menyapa sejumlah wilayah pada April (15/4/26). Periode ini akan diawali dari wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, serta sebagian Bali dan Jawa bagian Timur sebelum meluas ke arah Barat.
Meskipun jadwal kemarau telah tiba, masyarakat diimbau untuk tidak bingung jika intensitas hujan masih sering terjadi di beberapa daerah. Kondisi tersebut bukan merupakan anomali yang terjadi secara tiba-tiba melainkan bagian dari proses transisi cuaca atau pancaroba.
Waspada Cuaca Ekstrem Pancaroba
Masyarakat perlu memahami bahwa peralihan musim bukanlah fenomena yang terjadi dalam sekejap mata seperti sulap. Saat ini Indonesia sedang memasuki tahap transisi yang biasanya ditandai dengan perubahan cuaca secara mendadak dan cenderung ekstrem.
Kondisi cuaca selama pancaroba biasanya berubah sangat cepat dari panas terik menjadi hujan lebat dalam waktu singkat. Periode transisi dari musim hujan ke kemarau ini diprediksi akan berlangsung sepanjang Maret hingga April mendatang.
“Ada tahapannya, ada proses transisinya,” jelas pihak BMKG mengenai fenomena perubahan musim tersebut.
Ancaman Kekeringan dan Karhutla
Puncak musim kemarau di tanah air diperkirakan baru akan terjadi sekitar Agustus 2026 dengan rentang variasi wilayah antara Juli hingga September. Seiring dengan peningkatan suhu, risiko kekeringan air dan kebakaran hutan lahan juga mulai membayangi sejumlah titik rawan.
Potensi bahaya kekeringan tersebut diprediksi mulai meningkat sejak Juni hingga Juli sejalan dengan pergerakan puncak musim panas. Sementara itu, risiko kebakaran hutan dan lahan diperkirakan mulai merangkak naik pada Juli dan mencapai titik tertinggi pada periode Agustus hingga September.
Musim kemarau di Indonesia diperkirakan berakhir sekitar Oktober atau November saat wilayah mulai memasuki musim hujan, demikian prediksi lembaga tersebut.



