BENUANTA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan mulai membayangi wilayah Kalimantan Timur seiring masuknya fase peralihan musim. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah mendeteksi kemunculan tujuh puluh tujuh titik panas yang tersebar di enam kabupaten dan kota.
Sebaran titik api tersebut terpantau mulai dari Kabupaten Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, hingga sebagian kawasan Kota Bontang. Kondisi ini menjadi alarm peringatan dini yang sangat serius sebelum puncak kemarau menghantam pada periode Juli hingga September mendatang.
Gerak Cepat Siagakan Alat
Merespons ancaman yang sudah di depan mata, Koordinator Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Kaltim Cahyo Kristanto mengaku tidak ingin kecolongan. Pihaknya langsung menginventarisasi dan menyiagakan seluruh peralatan tempur pemadam kebakaran.
“Kami sudah mulai menyiapkan sarana dan prasarana termasuk memastikan kesiapan mesin pompa air,” ungkap Cahyo.
Langkah antisipasi ini dikebut agar tim di lapangan bisa merespons dengan cepat setiap kali muncul titik api. Menariknya, pergerakan taktis ini langsung dieksekusi di lapangan meskipun surat keputusan gubernur terkait status siaga bencana hidrometeorologi tingkat provinsi masih dalam proses administrasi.
Larangan Keras Bakar Lahan
Bercermin dari pengalaman buruk pada tahun lalu, nyaris seluruh wilayah di provinsi ini masuk dalam zona merah rawan bencana. Karakteristik lahan gambut yang cukup luas membuat kawasan ini sangat mudah terbakar dan apinya sulit dipadamkan saat musim kering tiba.
Oleh karena itu, pihak berwenang memberikan peringatan keras kepada masyarakat dan perusahaan perkebunan untuk mutlak menghentikan kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar. Penanganan krisis ini juga menuntut sinergi kuat dari pemerintah daerah, aparat, perusahaan, hingga kelompok masyarakat peduli api.
“Kami minta masyarakat lebih waspada. Jangan membuka lahan dengan cara dibakar karena risikonya sangat besar,” pungkas Cahyo.



