BENUANTA – Fenomena kenaikan pengeluaran rumah tangga di tengah bulan suci Ramadan menjadi ironi yang terus berulang dalam kehidupan masyarakat modern. Padahal secara logika frekuensi makan berkurang menjadi dua kali sehari namun biaya kebutuhan pokok justru melonjak tajam pada Sabtu (14/02/26).
Kondisi ini disebabkan oleh adanya pergeseran makna ibadah yang kini cenderung menitikberatkan pada aktivitas ragawi semata. Masyarakat seringkali terjebak dalam pola pikir untuk memuaskan nafsu makan saat berbuka sebagai bentuk kompensasi atas rasa lapar seharian.
Pergeseran Makna Menjadi Aktivitas Konsumsi
Banyak keluarga yang mendadak mengubah pola belanja mereka dengan menghadirkan menu yang jauh lebih mewah dan beragam dibandingkan hari biasa. Kebiasaan menyediakan aneka takjil dan makanan spesial secara berlebihan tanpa disadari telah menguras anggaran bulanan secara signifikan.
Situasi tersebut diperparah dengan adanya pemahaman sempit yang menganggap puasa hanya sebagai perpindahan jam makan dari siang ke malam hari. Akibatnya esensi pengendalian diri yang menjadi inti dari ibadah puasa seringkali terlupakan oleh gempuran gaya hidup konsumtif.
Pengamat budaya menyebutkan bahwa masyarakat modern memahami puasa hanya dari satu sisi yakni aktivitas ragawi untuk menjalankan perintah Tuhan tanpa makan dan minum. Hal tersebut sering dianggap hanya memindahkan aktivitas makan dari yang biasanya siang hari berpindah menjadi malam hari.
“Masyarakat modern menyambut waktu makan setelah terbenam matahari dengan makan besar,” ujar pengamat tersebut.
Mitos Kesehatan dan Pengaruh Industri
Ketakutan akan kekurangan nutrisi dan tenaga selama berpuasa juga menjadi motor penggerak meningkatnya permintaan pasar terhadap suplemen serta makanan tambahan. Produsen memanfaatkan kekhawatiran ini dengan menjual citra kesehatan melalui iklan yang dikemas menggunakan simbol-simbol agama.
Selain itu permainan harga oleh para spekulan dan distributor di pasar tradisional turut memberikan andil besar dalam membengkaknya biaya hidup. Rakyat seringkali tidak berdaya menghadapi kenaikan harga sembako karena dorongan kebutuhan yang dianggap wajib dipenuhi demi menjaga stamina tubuh.
Seorang ahli mengungkapkan bahwa konsumsi di bulan Ramadan dibentuk oleh ketakutan masyarakat pada alasan kesehatan terkait dengan nutrisi dan gizi. Perilaku ini dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk menjadikan momen di bulan puasa sebagai jalan mendapatkan keuntungan ekonomi.
“Mitos kesehatan masuk dalam budaya permintaan dari suatu masyarakat yang dimanfaatkan oleh produsen dengan menghadirkan produk sesuai keinginan masyarakat,” kata ahli itu.



