BENUANTA – Anggota Komisi I DPRD Berau, Thamrin, meminta pelaku kekerasan seksual terhadap anak dihukum seberat-beratnya agar menimbulkan efek jera.
Dia juga mendorong adanya tes psikologi bagi tenaga pendidik untuk menghindari hal yang tak diinginkan.
Pernyataan itu disampaikannya menyusul maraknya kasus cabul di Berau yang dinilai sudah menjadi alarm serius.
Menurutnya, pelaku tidak hanya berasal dari lingkungan keluarga maupun orang sekitar, tetapi kini juga melibatkan tenaga pendidik hingga guru mengaji.
“Harapan kita ini harus diberikan hukuman yang layak pantas,” ujarnya, Senin (18/5/2026).
Thamrin menilai, hukuman berat perlu diterapkan karena kasus serupa terus berulang.
Bahkan, beberapa kasus diduga dilakukan lebih dari satu kali terhadap korban yang berbeda.
“Memang mereka perlu diberikan hukuman seberat-beratnya supaya ada efek jera kepada mereka. Karena ini kayaknya sudah sering terjadi,” katanya.
Ia mengungkapkan, pelaku kekerasan seksual terhadap anak kerap berasal dari orang-orang yang justru dipercaya masyarakat, seperti ustaz, guru, guru pesantren, hingga keluarga dekat korban.
“Biasanya ada ustaz, ada guru, ada guru pesantren. Ada keluarga juga, keluarga dekat. Itu sering melakukan,” ucapnya.
Menurutnya, apabila pelaku berasal dari tenaga pendidik, maka sanksi pidana harus dibarengi dengan pemecatan dari profesinya.
“Nah, ini harapan saya ya harus dipecat dari jabatannya, kemudian ditahan, dikasih hukuman seberat-beratnya. Tentunya supaya dia merasakan efek jera dan bisa menjadi pembanding bagi yang lain,” tegasnya.
Selain itu, Thamrin juga mendorong adanya penelusuran rekam jejak atau latar belakang calon tenaga pendidik sebelum diangkat menjadi guru maupun pengajar agama.
Ia menilai, proses seleksi perlu diperketat untuk memastikan tidak ada riwayat perilaku menyimpang yang berpotensi membahayakan anak-anak.
“Ketika seseorang akan diangkat menjadi tenaga pendidik perlu juga dilakukan tracking sejarah hidupnya. Apakah dia pernah melakukan sesuatu tindakan atau segala macam,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga mengusulkan adanya tes psikologi dan kejiwaan bagi calon tenaga pendidik.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan guru memiliki kondisi mental yang baik dan mampu menjadi teladan bagi murid.
“Jadi saya kira tes psikologi itu memang penting. Supaya orang yang masuk mengajar di situ betul-betul orang yang kejiwaannya bagus, kemudian bisa memberikan edukasi dan teladan kepada murid-muridnya,” pungkasnya. (Adv/DPRD Berau)




