BENUANTA – Di atas kertas, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2025 menunjukkan tren positif. Angka ketimpangan tercatat menyusut ke level 0,379, atau turun 0,062 poin dibandingkan tahun 2024. Namun, jika data tersebut dikuliti lebih dalam, terdapat anomali dan “rapor merah” yang menjadi paradoks di tengah klaim membaiknya kesetaraan gender di Benua Etam.
Penurunan IKG Kaltim tahun ini sejatinya tertolong oleh membaiknya dimensi kesehatan reproduksi dan meningkatnya keterwakilan perempuan di kursi legislatif. Sayangnya, capaian elok di ranah kesehatan dan politik tersebut justru berbanding terbalik dengan realitas perempuan Kaltim di sektor pendidikan dan pasar tenaga kerja yang nyatanya makin merosot.
Rapor Merah di Balik Bangku Sekolah dan Karier
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Mas’ud Rifai, dalam laporan resminya membedah bahwa dimensi pemberdayaan tidak hanya diukur dari kursi politik, tetapi juga dari tingkat pendidikan. Di sinilah letak ironinya. Ketika persentase laki-laki berpendidikan minimal SMA naik dari 56,32 persen menjadi 57,95 persen pada 2025, akses pendidikan menengah ke atas bagi perempuan justru mengalami kemunduran.
Persentase perempuan Kaltim usia 25 tahun ke atas yang mengenyam pendidikan minimal SMA dilaporkan turun dari 50,23 persen pada 2024 menjadi hanya 49,68 persen di tahun 2025.
Kemunduran ini menjalar langsung ke sektor ekonomi. Dimensi pasar tenaga kerja yang diukur melalui Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menunjukkan kelesuan. Partisipasi perempuan di dunia kerja ikut terseret turun, sejalan dengan penurunan TPAK secara umum di provinsi ini.
Fakta ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Kesetaraan gender tidak boleh hanya berakhir sebagai angka statistik yang tertolong oleh indikator kesehatan semata, sementara kapasitas intelektual dan kemandirian ekonomi perempuan di akar rumput justru semakin tertinggal.
Faktor Penyelamat IKG dan Ketimpangan Antardaerah
Meski sektor pendidikan dan tenaga kerja memberikan catatan kelam, capaian di sektor lain tetap patut diapresiasi sebagai langkah maju. BPS mencatat beberapa indikator penyumbang utama membaiknya IKG Kaltim 2025 yang meliputi
- Kesehatan Reproduksi Menurunnya proporsi perempuan (15–49 tahun) yang melahirkan di luar fasilitas kesehatan, serta berkurangnya angka perempuan yang melahirkan anak pertama di bawah usia 20 tahun.
- Gebrakan Politik Porsi perempuan di parlemen melesat 1,82 persen poin menjadi 14,55 persen pasca-Pemilu, sedikit demi sedikit mengikis dominasi laki-laki di meja pengambil keputusan.
Meski demikian, BPS juga memberikan catatan tebal terkait lebarnya jurang ketimpangan antardaerah di Kalimantan Timur. Status kesetaraan gender antar kabupaten/kota masih sangat jomplang.
Kabupaten Kutai Timur tercatat sebagai daerah dengan ketimpangan gender paling ekstrem di Kaltim dengan skor IKG menembus 0,477. Angka ini berbanding terbalik bagai bumi dan langit dengan Kota Balikpapan yang sukses menjadi daerah paling setara dengan skor IKG terendah di angka 0,153. Pekerjaan rumah Pemprov Kaltim nyatanya masih sangat panjang untuk memastikan kesetaraan benar-benar merata hingga ke pelosok.



