Sistem Drainase Buruk Jadi Pemicu Utama Banjir di Kota Besar Indonesia

Muflihah

BENUANTA Pertumbuhan populasi masyarakat perkotaan di Indonesia yang melonjak tajam dalam dua dekade terakhir tidak dibarengi dengan perencanaan sistem drainase yang memadai. Kondisi ini menjadi pemicu utama terjadinya bencana banjir yang terus berulang di hampir seluruh kota besar pada Senin (2/3/26).

Peralihan fungsi lahan dari ruang terbuka hijau menjadi kawasan kedap air menyebabkan kemampuan tanah dalam menyerap aliran permukaan menurun drastis. Fenomena ini diperparah oleh lokasi permukiman yang berada di dataran rendah dengan elevasi relatif kecil sehingga sangat rentan terhadap genangan air.

Ancaman Kegagalan Infrastruktur

Risiko bencana di Indonesia tidak hanya bersumber dari faktor alam murni seperti curah hujan yang tinggi atau pasang surut air laut. Faktor non alam yang melibatkan kegagalan teknologi serta kurangnya perencanaan infrastruktur jangka panjang turut andil dalam memperparah kerugian material maupun jiwa.

Sistem drainase pada kawasan padat penduduk seharusnya berfungsi penuh untuk mengendalikan jumlah dan laju air limpasan dari sisa pembangunan. Namun kenyataannya pembangunan yang tidak terkendali seringkali justru merusak ekosistem sungai dan menutup akses parit maupun gorong-gorong.

Urgensi Pengelolaan DAS

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai atau DAS menjadi kunci utama dalam mengantisipasi ancaman banjir yang datang secara mendadak. Bagian hulu yang memiliki kemiringan curam memerlukan penanganan berbeda dengan bagian hilir yang didominasi oleh aliran air lambat serta material lumpur.

Masyarakat diharapkan terus menjaga lingkungan sekitar guna mengurangi risiko bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia itu sendiri. Kesadaran untuk tidak mempersempit area resapan air menjadi sangat krusial di tengah pesatnya konversi lahan pertanian menjadi area terbangun..

Bagikan:

Baca Juga