Fokus

Tidung Sebawang

Pemerintahan ini memiliki sejarah yang hampir sama dengan kerajaan tidung sesayap.

Ditulis Oleh: Bernard Sellato*
Diterjemahkan Oleh: Raga C.**

Pemerintahan ini memiliki sejarah yang hampir sama dengan kerajaan tidung sesayap.

Masyarakat lokal mengenalnya dengan nama Kerajaan Tanjung belimbing atau juga dikenal dengan nama Kerajaan Kabiran pada masa Raja Pandita.

Dalam literatur-literatur dikenal dengan nama Kerajaan sembawang, yang mana sekarang sudah hampir terlupakan.

Kerajaan ini memegang peranan penting dalam membuka aktivitas perdagangan di lembah sungai Tubu dan Malinau.

Bermula dari penduduk Bunyu, yang kemungkinan besar merupakan populasi orang dari berayu’ (Berau).

Dari bunyu, mereka pindah ke Pulau Muyu di Selatan Sesayap. Ini terjadi pada pertengahan pertama abad 18 (antara tahun 1700-1750. Pen).

Raja pertama yang memerintah adalah Raja Lambat, atau Raja Rambat, yang dilaporkan merupakan bangsawan berasal dari Banjarmasin.

Di Muyu island, mereka menyatu dengan suku dayak pesisir lokal (kemungkinan besar Berusu) dan lalu pindah ke bebatu dan setelah itu, dibawah pemerintahan Raja Mas Mangku, pindah ke Penagar.

Akhir abad 18, mereka pindah ke hulunya lagi, yakni ke daerah Sebawang (or sembawang, di sungai sebawang. Terkenal dengan gua-gua sarang burungnya) di masa Raja Sebawang.

Raja sebawang masuk islam dan mengganti namanya menjadi Raja Alamsyah alias Panembahan tua Sebawang. Tapi sebagaimana Tidung Sesayap, penduduknya baru memeluk islam sekitar setengah abad kemudian.

Setelah sebuah serangan dari sulu yang mendesak Raja Alamsyah pindah ke Tideng Pala, benteng yang lebih baik, dimana kursi pemerintahan terus bertahan, dibawah pemerintahan beberapa raja dengan gelar Panembahan hingga lima puluh tahun lamanya.

Sekitar tahun 1860an, Ali Hanafiah yang memiliki gelar Panembahan Raja Tua, memindahkan pusat pemerintahannya ke hulu pertemuan sungai bengalun. Ia kemudian pindah lagi lebih ke hulu, yakni ke Pulau Sapi, karena diserang berulang-ulang oleh dayak tenggalan dan dirampok oleh Suku Segai dari kayan yang menjarah sarang-sarang burung di sungai-sungai sekatak dan sebawang.

Hal yang menarik, arsip Belanda melaporkan adanya seorang pedagang Arab yang diberi ijin mengumpul Rotan di lembah sungai Bengalun. Mungkin ini catatan pertama mengenai kontrak kerjasama (konsesi) produk tunggal.

Di bengalun dan pulau sapi, Raja-raja sembawang banyak berdagang, khususnya sarang burung, dengan Suku Merap yang kemudian menjadi Raja-raja malinau dan mengontrol gua-gua sarang burun di Gong Solok, Rian dan sungai seturan.

Dengan cepat, seorang Raja sembawang memperoleh area Gong Solok dalam kesepakatan kompensasi yang diperantarai orang Merap, setelah beberapa orang pengikut raja sembawang tersebut dibunuh oleh berusu.

Perdagangan dengan suku pedalaman, yang dikelola oleh Raja-raja sebawang untuk menyaingi perdagangan Raja-raja Sesayap, mungkin menjadi sebab banyaknya hasil ekspor dari masyarakat Tidung pada akhir abad 19.

Walaupun demikian, keturunan raja-raja sebawang bersekutu melalui perkawinan dengan orang tidung sesayap, dan kemudian dengan orang tidung sembakung mensalong.

Raja berikutnya, Sapu, yang bergelar Panembahan Raja Pandita memindahkan pusat pemerintahannya ke Kabiran.

Di tengah serangan-serangan Segai, ia banyak berdagang dengan Merap Langap, baik secara langsung atau melalui seorang China kelas menengah yang dikenal dengan nama Tokya cui yang membeli sarang burung dari kepala suku Merap, Alang La’ing.

Pada masa awal abad 20, Ia memimpin pemberontakan melawan bulungan dan Belanda. Ia tertangkap dan dibuang ke Nusa Kambangan (1909). Kerajaan dihapus sebagai hukuman.

Segera, keponakannya, Aji menemukan dan menempati Sebambon, yang sekarang dikenal sebagai malinau Kota. Tentara Belanda mendirikan Post di sana pada tahun 1919.

Belanda membuat daftar gua sarang burun dan pemiliknya, yang kemudian distempel oleh kesultanan bulungan sebagaimana mestinya.

Aji Kuning dijadikan Kepala kampung, dan sebagaimana Raja Tidung, orang kepala suku merap langap, dan empat kepala suku lainnya (1935), menjadi seorang anggota Majelis Kerapatan Besar Tanah-Tanah Tidung (High Council of the Tidung Territories).

Pada tahun 1936, tampaknya sepupunya, Aji Kapitan, dijadikan kepala adat suku tidung, dengan demikian mengesampingkan Raja-raja tidung sesayap.

Setelah perang dunia kedua, Aji Soleman menganggap Malinau Kota terlalu sempit, memindahkan penduduknya ke hulu sungai, yakni tanjung belimbing.

Pemimpin berikutnya, Aji Saharman, tinggal di rumah yang modern, nyaman dan luas di tanjung belimbing, menyatakan bahwa ia akan menjadi Kepala Adat Tidung seandainya pemerintah mau merestuinya.

Gagasan ini sangat ditentang oleh pewaris kerajaan tidung sesayap, Aji Pangeran Bakti.

Refrensi:

*Bernard Sellato adalah ilmuwan perancis yang menyandang gelar doktor antropologi. Ia tinggal bertahun-tahun di Kalimantan untuk menelaah sejarah, bahasa, dan kebudayaan.

**Raga C adalah pria pecandu kopi.

Source
Source Forest, Resources and People in Bulungan - Bernard Sellato
Tags
Show More

Related Articles

Beri komentar

Close