BENUANTA – Wilayah Selat Sunda hingga Bali dikenal sebagai jalur “cincin api” yang menyimpan deretan gunung api tipe A dengan catatan sejarah erupsi paling dahsyat. Berdasarkan data vulkanologi, terdapat enam raksasa api yang memiliki peringkat teratas dalam skala kekuatan letusan atau Volcanic Explosivity Index (VEI) pada Sabtu (14/02/26).
Pemeringkatan ini didasarkan pada frekuensi dan intensitas erupsi yang pernah mengguncang wilayah sekitarnya, mulai dari suara dentuman yang membelah pulau hingga tsunami yang mematikan.
Dominasi Kelud dan Kedahsyatan Agung
Posisi jawara dalam hal frekuensi erupsi kuat ditempati oleh Gunung Kelud. Tercatat, gunung ini telah mengalami enam kali erupsi kuat pada skala VEI 4 sejak tahun 1826 hingga yang terbaru pada Februari 2014. Letusan terakhirnya bahkan menciptakan dentuman yang terdengar hingga lebih dari separuh Pulau Jawa. Sejarah kunonya pada tahun 1586 bahkan diduga mencapai skala VEI 5.
Di peringkat kedua, Gunung Agung di Bali mencatatkan sejarah kelam dengan dua kali erupsi skala VEI 5 dalam rentang 120 tahun, tepatnya pada 1843 dan 1963. Saat ini, Gunung Agung terpantau sudah 60 tahun belum kembali menunjukkan aktivitas erupsi kuatnya.
Sementara itu, Gunung Krakatau menempati peringkat ketiga. Meski erupsi tahun 2018 hanya berskala VEI 3, namun dampaknya memicu tsunami besar di Selat Sunda akibat longsoran tubuh gunung. Krakatau memegang rekor letusan “super” pada 1883 dengan skala VEI 6 yang melegenda.
Raksasa Api Jawa Lainnya
Peringkat selanjutnya diisi oleh Gunung Galunggung yang pernah erupsi hebat selama hampir dua bulan pada tahun 1822 dengan skala VEI 5. Letusan kuat terakhirnya tercatat terjadi pada rentang tahun 1982 hingga 1983 dengan skala VEI 4.
Gunung Raung menempati urutan kelima dengan rekor erupsi terkuat skala VEI 5 pada tahun 1593. Laporan sejarah juga mencatat letusan kuat berskala VEI 4 terjadi pada tahun 1638 dan 1817.
Menutup daftar di peringkat keenam adalah Gunung Merapi. Gunung paling aktif di Yogyakarta ini mencatatkan erupsi kuat terakhir pada 2010 dengan skala VEI 4. Sejarah mencatat kekuatan serupa juga pernah terjadi pada April 1872 silam.
Data sejarah ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat dan pemangku kebijakan untuk terus meningkatkan upaya mitigasi bencana, mengingat karakter gunung-gunung api tersebut yang bisa kembali aktif kapan saja dengan kekuatan yang besar.



