BENUANTA – Susu formula merupakan produk pengganti ASI yang dapat berupa serbuk atau cair, terbuat dari susu sapi atau kedelai. Sementara itu, susu UHT (Ultra High Temperature) dibuat dari susu sapi yang dipanaskan pada suhu sangat tinggi sehingga umur simpannya menjadi lebih lama. Meski keduanya merupakan susu, terdapat variasi signifikan mulai dari kandungan nutrisi hingga cara produksinya. Lalu, di antara susu formula dan susu UHT, mana yang lebih cocok? Baca ulasan berikut sampai selesai.
Perbandingan Susu Formula dan Susu UHT
Banyak orang masih belum familiar dengan perbedaan kedua tipe susu ini. Berikut rangkuman perbedaan utama yang perlu Anda perhatikan.
1. Komposisi Nutrisi
- Susu formula mengandung protein, kalsium, vitamin, whey protein atau kasein, lemak, zat besi, minyak nabati, inositol, libid, antioksidan, serta minyak ikan.
- Susu UHT menyediakan protein, kalsium, karbohidrat, lemak, vitamin D, vitamin E, dan mineral tambahan. Pada varian rasa, biasanya ditambahkan penstabil nabati, gula, serta bubuk perasa.
2. Cara Pembuatan
- Susu formula diproduksi melalui dua fase. Tahap pertama (basah) meliputi pasteurisasi, pencampuran bahan tambahan, sterilisasi, penguapan kadar air, dan proses spray‑drying. Tahap kedua (kering) melibatkan pendinginan serta pengadukan dengan mesin dry‑mixer.
- Susu UHT dimulai dengan klarifikasi susu menggunakan mesin, kemudian disimpan pada suhu 60 °C untuk memisahkan skim dan lemak. Selanjutnya susu dipanaskan pada suhu 135‑150 °C selama 1‑5 menit. Proses lanjutan mencakup standarisasi, pasteurisasi, pendinginan, homogenisasi, pengemasan, hingga distribusi.
Ads: Informasi lembaga pendidikan profesi untuk Kebidanan dan Fisioterapi, serta mencakup berbagai kebutuhan tenaga kesehatan terampil dapat mengunjungi https://poltekkesmakassar.org/sejarah/
Mana yang Lebih Baik? Susu Formula atau Susu UHT?
WHO merekomendasikan pemberian susu pengganti ASI berupa susu formula untuk bayi berusia 6‑11 bulan, karena produk ini mengandung nutrisi tambahan vitamin, mineral, serta zat gizi penting yang mendukung pertumbuhan pada fase tersebut, terutama bagi anak yang sulit makan atau berisiko kekurangan zat besi.
Sementara itu, susu UHT disarankan hanya untuk anak di atas satu tahun. Tingginya konsentrasi protein susu sapi serta kadar gula yang relatif tinggi dapat memicu gangguan pencernaan pada balita. Oleh karena itu, pemberian susu UHT kepada anak di bawah dua tahun tidak dianjurkan.
Setiap anak memiliki kondisi yang unik; penting untuk memeriksa apakah mereka memiliki alergi terhadap protein susu sapi. Bila muncul gejala alergi, Anda dapat beralih ke alternatif nabati seperti susu kedelai, almond, oat, atau jenis lainnya.



