Search
Close this search box.

Budisatrio: Program Beras Saset Tidak Cukup Efektif, Perlu Bibit Unggul untuk Jaga Pasokan Beras

Benuanta.id – Harga beras yang terus meroket di Indonesia membuat pemerintah mencari cara untuk menekannya. Salah satunya adalah dengan menghidupkan kembali program beras saset seharga Rp 2.500 per 200 gram oleh Perum Bulog.

Program ini diharapkan bisa membantu masyarakat yang kesulitan membeli beras di pasaran. Namun, apakah program ini cukup efektif? Dan apa dampaknya bagi petani dan konsumen?

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, mengumumkan bahwa program beras saset ini akan diluncurkan tahun depan. Ia mengatakan bahwa beras saset ini akan disebar ke seluruh wilayah Indonesia.

“Ya nanti nih, mudah-mudahan tahun depan. Saya sedang rapatkan, kita menciptakan itu lagi untuk kita sebar ke seluruh wilayah,” kata Buwas.

Namun, program ini menuai pro dan kontra dari berbagai pihak. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, G Budisatrio Djiwandono, mengatakan bahwa pemerintah juga harus memikirkan solusi jangka panjang untuk mengatasi kenaikan harga beras.

Baca juga  Pemerintah Percepat Penyelesaian Publisher Rights

“Selama program itu direncanakan dan diimplementasikan dengan baik, tepat sasaran, ya pasti komisi IV tidak akan ada masalah,” ujar Budisatrio.

“Tapi juga kita harus berpikir dan membicarakan jangka panjangnya, mulai dari (kesiapan) bibit unggul yang menjadi riset berbagai lembaga, dan ini harus kita kedepankan agar kita bisa menjaga kebutuhan pangan termasuk beras, sehingga kita bisa benar-benar menghadirkan (pasokan beras) dari dalam negeri,” lanjutnya.

Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional menunjukkan bahwa rata-rata harga beras kualitas medium i (per kg) harian di pasar modern di beberapa provinsi telah mencapai Rp 15,07 ribu per kg, data per Jumat, 24 November 2023. Harga ini naik dibandingkan pekan lalu yang rata-ratanya Rp 15,01 ribu per kg.

“Kami akan tetap cek apakah itu (program beras saset) baik dan seperti apa mekanismenya. Disisi lain juga kita akan terus mendorong bagaimana caranya masyarakat yang membutuhkan program ini mendapatkannya dengan tepat sasaran,” tambah Budisatrio.

Beberapa faktor yang diduga menyebabkan harga beras melambung adalah kebijakan beberapa negara untuk menghentikan ekspor beras untuk menjaga stok pangan mereka. Selain itu, ada fenomena cuaca El Nino yang berdampak pada hasil panen di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Baca juga  Tak Akan Jumpai Jaringan Kabel Berserakan di IKN, Sistem ini Bisa Ditiru Kota-kota Lain

Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, bahkan menyatakan bahwa inflasi beras pada bulan September 2023 adalah yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Ini adalah masalah yang serius.

Oleh karena itu, Budisatrio pun menekankan agar pemerintah bisa mengambil langkah jangka panjang. Jangan hanya mengandalkan program beras saset untuk menangani persoalan saat ini.

“Dengan kondisi sekarang ini, kita harus benar-benar melakukan antisipasi, waspada, dan jangan sampai kita bergantung terus dari kiriman luar. Bagaimana pun kita (Indonesia) harus kembali menjadi swasembada pangan,” tutup Budisatrio.

Hosting Murah

Berita Terbaru

Narahubung

© Copyright 2018 – 2023 PT Benuanta Oetama Madjoe Djaya, All Rights Reserved