Inilah Ancaman Utama yang Membuat Pesut Mahakam Terancam Punah

Bisnis

Inilah Ancaman Utama yang Membuat Pesut Mahakam Terancam Punah

BENUANTA – Keberadaan mamalia air tawar endemik Kalimantan Timur kini berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan karena populasinya terus merosot tajam. Pesut mahakam yang memiliki peran ekologis sebagai predator puncak di perairan sungai terpanjang di provinsi tersebut dilaporkan hanya menyisakan angka puluhan ekor.

Berdasarkan data terbaru dari yayasan konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia jumlah populasi satwa ini hanya tersisa 41 ekor pada Jumat (27/2/26). Kondisi kritis tersebut menempatkan pesut mahakam dalam daftar merah sebagai spesies yang sangat terancam punah di habitat aslinya.

Jaring Insang Jadi Pembunuh Utama

Penyebab utama kematian mamalia akuatik ini bukanlah karena faktor alami melainkan akibat aktivitas manusia yang merusak ekosistem sungai. Penggunaan jaring insang oleh nelayan setempat menjadi ancaman paling mematikan bagi keselamatan individu pesut dewasa maupun remaja.

Data menunjukkan bahwa sebagian besar kasus kematian pesut di Sungai Mahakam terjadi akibat hewan tersebut terjerat jaring saat sedang mencari makan. Selain itu maraknya praktik penangkapan ikan ilegal seperti penggunaan alat setrum turut mempercepat laju penurunan populasi yang sudah sangat terbatas tersebut.

Kerusakan Habitat dan Polusi Industri

Degradasi lingkungan akibat kegiatan pertambangan dan industri di sepanjang aliran sungai juga menjadi faktor yang mengganggu kelangsungan hidup satwa endemik ini. Kebisingan suara perahu serta paparan polutan kimia telah merusak kualitas air yang menjadi tempat tinggal utama bagi predator air tawar tersebut.

Langkah konservasi mendesak sangat diperlukan untuk melindungi habitat mereka mulai dari wilayah Muara Kaman hingga Danau Semayang agar tidak semakin tercemar. Upaya menjaga ketersediaan sumber makanan alami seperti ikan putihan juga menjadi kunci agar sisa populasi yang ada dapat bertahan hidup lebih lama.

“Populasi pesut mahakam yang tersisa saat ini hanya berjumlah 41 ekor saja,” tulis Ghofar dalam laporannya.

“Sekitar 74 persen dari total kasus kematian pesut mahakam disebabkan oleh terjeratnya hewan tersebut pada jaring insang nelayan,” kata Noor.

Bagikan:

Baca Juga