Kita Sedang Salah Mengukur Kualitas Riset Indonesia

Fathur

Munawir, S.Pd.I., S.Kom., M.M. 

Dosen Universitas Internasional Muhammadiyah Bali & Editor Jurnal Ilmiah Nasional

Saya ingin memulai dengan sebuah pengakuan yang mungkin tidak nyaman didengar oleh banyak pihak di dunia akademik Indonesia: kita sedang mengukur hal yang salah, dengan cara yang salah, dan menyebutnya sebagai kemajuan.

Setiap kali saya duduk dalam rapat akademik, membaca kebijakan internal kampus, atau mendengar diskusi tentang publikasi ilmiah, saya selalu mendengar pertanyaan yang sama: “SINTA berapa?” Bukan “Seberapa penting temuannya?” Bukan “Apakah metodologinya kuat?” Bukan “Apakah penelitian ini menjawab masalah nyata yang dihadapi masyarakat?”

Hanya: “SINTA berapa?”

Dan di situlah letak masalah kita yang sesungguhnya.

Angka yang Kita Sembah

Saya tidak anti-SINTA. Sistem akreditasi jurnal nasional adalah pencapaian kebijakan yang penting — ia memaksa pengelola jurnal untuk memenuhi standar tata kelola editorial yang terukur, dan memberikan panduan bagi penulis dalam memilih platform publikasi yang legitimate. Untuk itu, SINTA layak diapresiasi.

Masalahnya bukan pada SINTA sebagai sistem. Masalahnya adalah pada cara kita menggunakannya — atau lebih tepatnya, cara kita menyalahgunakannya.

Ketika sebuah universitas menetapkan kebijakan bahwa dosen hanya mendapat poin BKD penuh jika menerbitkan di SINTA 2 ke atas, ia secara tidak langsung sedang mengatakan bahwa 68,45% jurnal nasional — lebih dari 10.000 jurnal SINTA 4 dan SINTA 5 — tidak cukup berharga untuk dihitung. Ketika sebuah program studi menolak mengakui publikasi mahasiswa S2 di jurnal SINTA 4 sebagai syarat kelulusan, ia sedang menghukum mahasiswanya bukan karena kualitas penelitiannya, tetapi karena pilihan platform-nya.

Ini bukan standar tinggi. Ini adalah obsesi peringkat yang menyamar sebagai standar kualitas.

Paradoks yang Kita Ciptakan Sendiri

Data SINTA Kemdiktisaintek per Mei 2026 mencatat 15.456 jurnal terakreditasi. Dari jumlah itu, hanya 1.780 jurnal atau sekitar 11,52% yang berada di SINTA 1 dan SINTA 2. Sisanya — 88,48% — berada di SINTA 3 hingga SINTA 6.

Kita telah menciptakan sebuah paradoks yang aneh: membangun ekosistem dengan lebih dari 15.000 jurnal, lalu secara sistematis mendorong seluruh komunitas akademik untuk hanya menggunakan 11,52% dari ekosistem itu.

Apa yang terjadi dengan 88,48% sisanya? Mereka tetap ada, tetap terbit, tetapi semakin terpinggirkan — bukan karena kualitas proses editorialnya buruk, tetapi karena sistem insentif yang kita bangun tidak memberi mereka ruang untuk diakui.

Dan ironisnya, ketika jurnal-jurnal itu terpinggirkan, kita lalu mengeluh bahwa ekosistem jurnal nasional tidak berkualitas. Kita sendiri yang menciptakan kondisi itu, lalu kita sendiri yang mengeluhkannya.

Apa yang Sebenarnya Kita Ukur?

Peringkat SINTA mengukur kualitas tata kelola jurnal — konsistensi penerbitan, kelengkapan metadata, kepatuhan terhadap standar OJS, indeksasi, dan sejenisnya. Semua itu penting. Tetapi tata kelola yang baik tidak otomatis berarti konten yang berdampak.

Sebuah jurnal SINTA 2 yang menerbitkan artikel-artikel metodologis yang lemah namun dikemas dengan metadata yang sempurna tetap akan mendapat peringkat tinggi dalam sistem kita. Sebaliknya, sebuah jurnal SINTA 4 yang menerbitkan penelitian lapangan yang mendalam tentang dinamika sosial masyarakat terpencil — penelitian yang tidak akan pernah dilakukan oleh jurnal internasional karena tidak cukup “glamor” — akan terus dipandang sebelah mata.

Kita sedang mengukur kemasan, dan menyebutnya sebagai isi.

Pelajaran dari Ekosistem yang Sehat

Saya mengelola dan terlibat dalam pengelolaan beberapa jurnal ilmiah nasional. Dari pengalaman itu, saya belajar satu hal yang tidak bisa diajarkan oleh statistik SINTA mana pun: kepercayaan penulis dibangun melalui proses, bukan peringkat.

EMT KITA yang telah menerbitkan artikel selama lebih dari 11 tahun tidak membangun reputasinya dengan mengejar peringkat SINTA. Ia membangunnya dengan konsistensi — terbit tepat waktu, merespons penulis dengan jujur, dan menolak artikel yang tidak memenuhi standar meskipun tekanan untuk menerima selalu ada.

IJSECS yang kini terakreditasi SINTA 3 dan memiliki penulis dari Amerika Serikat, Finlandia, Malaysia, Iran, dan India tidak menarik peneliti internasional dengan peringkat SINTA-nya. Ia menarik mereka dengan kualitas proses peer review, kecepatan respons editorial, dan aksesibilitas platform digitalnya.

Peringkat adalah hasil dari proses yang baik — bukan tujuan yang dikejar secara langsung. Ketika kita membalik urutan itu dan menjadikan peringkat sebagai tujuan utama, kita sedang membangun rumah dari atap ke bawah.

Yang Tidak Terlihat dalam Angka

Ada sesuatu yang tidak pernah tertangkap dalam statistik SINTA, GARUDA, atau ARJUNA mana pun, tetapi menurut saya adalah hal paling penting dalam seluruh ekosistem publikasi ilmiah kita.

Ia adalah momen ketika seorang mahasiswa S2 dari kampus kecil di pelosok Sulawesi menerima email notifikasi bahwa artikel pertamanya diterima untuk diterbitkan. Bukan di jurnal Scopus. Bukan di SINTA 1. Mungkin hanya di jurnal SINTA 4 atau SINTA 5. Tetapi di saat itu, sesuatu berubah dalam dirinya — ia mulai melihat dirinya bukan hanya sebagai mahasiswa yang belajar, tetapi sebagai peneliti yang berkontribusi.

Momen itu tidak terukur dalam sistem penilaian mana pun. Tetapi momen itulah yang menjadi benih dari budaya riset yang kita semua inginkan tumbuh di Indonesia.

Ketika kita meremehkan jurnal SINTA 4 dan SINTA 5, kita tidak hanya meremehkan jurnal-jurnalnya. Kita meremehkan momen-momen itu. Kita meremehkan benih-benih itu. Dan kita bertanya-tanya mengapa pohon riset Indonesia tidak tumbuh setinggi yang kita harapkan.

Apa yang Harus Berubah

Saya tidak sedang mengusulkan untuk menghapus sistem peringkat SINTA. Saya mengusulkan sesuatu yang lebih mendasar: mengubah cara kita berpikir tentang apa yang sedang kita bangun.

Jika yang kita bangun adalah ekosistem pengetahuan yang sehat, maka kita perlu menghargai seluruh komponen ekosistem itu — bukan hanya puncaknya. Kita perlu sistem insentif yang mengakui kontribusi jurnal SINTA 4 yang konsisten selama satu dekade sama seperti kita mengakui jurnal SINTA 2 yang baru saja naik peringkat. Kita perlu kebijakan kampus yang mendorong dosen untuk menerbitkan di jurnal yang tepat untuk penelitiannya — bukan di jurnal yang tertinggi yang bisa mereka masuki.

Dan yang paling penting, kita perlu berhenti menggunakan peringkat SINTA sebagai proksi untuk kualitas intelektual. Peringkat SINTA mengukur tata kelola jurnal. Kualitas intelektual diukur oleh dampak nyata pengetahuan yang diproduksi — pada kebijakan, pada praktik, pada pemahaman kita tentang dunia.

Keduanya penting. Tetapi keduanya bukan hal yang sama.

Penutup: Memilih Ukuran yang Tepat

Fisikawan Richard Feynman pernah berkata bahwa perbedaan antara mengetahui nama sesuatu dan mengetahui sesuatu itu sendiri adalah perbedaan yang paling fundamental dalam ilmu pengetahuan.

Kita tahu nama-nama peringkat SINTA dengan sangat baik. Pertanyaannya adalah: apakah kita benar-benar mengetahui apa yang sedang kita bangun di balik nama-nama itu?

Ekosistem publikasi ilmiah Indonesia yang sesungguhnya bukan hanya 1.780 jurnal di SINTA 1 dan SINTA 2. Ia adalah seluruh 15.456 jurnal terakreditasi — termasuk 10.580 jurnal SINTA 4 dan SINTA 5 yang selama ini bekerja keras dalam diam, melayani ratusan ribu dosen dan mahasiswa Indonesia yang tidak punya akses ke jurnal bereputasi tinggi, tetapi tetap berhak atas ruang untuk berpikir, menulis, dan berkontribusi.

Mereka bukan warga kelas dua dalam ekosistem pengetahuan kita.

Sudah waktunya kita memperlakukan mereka seperti itu.

Munawir, S.Pd.I., S.Kom., M.M. adalah dosen tetap di Universitas Internasional Muhammadiyah Bali dan editor aktif di beberapa jurnal ilmiah nasional terakreditasi SINTA. Ia dapat dihubungi melalui laman jurnal yang dikelolanya.

Pandangan dalam tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis.

Bagikan:

Baca Juga