Fokus

Kerajaan Tidung Sesayap

Oleh: Bernard Sellato*
Diterjemahkan Oleh: Raga C.**

Di utara Kalimantan terdapat beberapa pos perdagangan seperti Bunyu, Tarakan, Nunukan, Mandul dan lain-lain. Diasumsikan ini telah bermula pada tahun 1000 Masehi atau bahkan lebih awal lagi. Daerah ini disinggung-singgung oleh naskah-naskah kuno dari China, namun tidak disebut kerajaannya. Orang barat baru melaporkannya pada tahun 1750. Sejarah lokal mengatakan kerajaan tidung telah ada sekitar 1650.

Kerajaan Tidung Tarakan sudah ada pada abad 17. Ia menutupi wilayah pesisir, yakni selatan sungai Sesayap dan utara sungai Kayan. Ini menyebabkan bertemunya berbagai suku pesisir (terutama Berusu) dan pendatang dari berbagai bangsa (Bugis, Tausug dan Bajau yang menguasai perdagangan di perairan) dan menyatu ke dalam suatu kesatuan baru yang disebut Tidung (yang bermakna “Gunung”).

Kerajaan Tidung lain di pulau Mandul mengontrol muara Sebuku dan Sembakung. Ini melibatkan populasi suku Tagol. Mereka bercampur dan membentuk Tidung sembakung. Mereka memproduksi sarang burung, sagu dan bahan baku kapal. Tidung sangat terkenal dengan ekspor sagunya.

Tahun 1650 aktivitas perdagangan pindah ke Sesayap dan Sembakung. Kerajaan Tidung Sembakung pindah ke pagar, atasnya Sembakung. Kerajaan Sesayap adalah cabang Kerajaan Tarakan, berkembang dari tiga penduduk yang berlokasi di Menjelutung.

Orang lokal Sesayap pada mulanya adalah suku Kepatal, yang telah lama terlupakan. Kemungkinan besar adalah bagian dari suku Putuk. Sesayap juga dikatakan berada di bawah kekuasaan Berau. Berau pada waktu itu beraliansi dengan Brunei melawan Sulu.

Lebih lanjut, mungkin seorang kepala suku Kepatal, mulai menggunakan nama dayak yang tegas untuk semua keturunan raja Tidung Sesayap.

Setelah suku Tausug dari Sulu menduduki Tarakan dan bersekutu dengan Bulungan, saudara perempuan raja Tidung Tarakan menikah dengan seorang pangeran Bulungan dan membawa tidung berada di bawah kuasa Bulungan.

Anak mereka yang bernama, Baginda, adalah yang pertama masuk islam. Dengan demikian itu adalah suatu perubahan yang hampir secara langsung dari kepemimpinan kepala adat dayak ke pemerintahan muslim. Namun bagaimanapun, koversi tersebut hanya terbatas pada kalangan bangsawan, sehingga sampai akhir tahun 1700an populasi Tidung belum mayoritas islam.

Kekuatan Sulu terus meningkat, dan bahkan mampu mengalahkan Berau pada tahun 1789. Sementara itu Kerajaan Bugis muncul di Kutai, berkembang hingga Paser dan terus mendesak ke utara, ke Bulungan.

Sepanjang pertengahan kedua abad 18, kerajaan Tidung pindah ke Sesayap dan Tideng Pala, hulunya Sesayap, untuk menghindar bajak laut yang mewabah dan menjaga gua-gua yang menghasilkan sarang burung.

Banyak pertempuran antara Sulu dan Bugis pada akhir abad 18 untuk

peta kerajaan-kerajaan di Utara Kalimantan

merebut rute perdagangan di Bulungan. Kesultanan Bulungan cenderung berpihak pada Bugis, dan bagian utara Bulungan (Tarakan, Sesayap, Sembakung, dll. Pen) berada dibawah kontrol Sulu, walaupun diklaim sebagai wilayah Bulungan.

Sekitar tahun 1800, kesultanan Berau terpecah menjadi dua dan jauh semakin melemah, sehingga menyebabkan Bulungan dan pemerintahan di utara lainnya melepaskan diri dari pengaruhnya. Itu membuat Kesultanan Sulu kokoh mengontrol wilayahnya, dan Tidung kembali ke Menjelutung.

Pertengahan pertama abad 19, Tidung memiliki 2000 penduduk (1812) dan mencatat ekspornya (terutama ke sulu). Diantaranya emas, sarang burung putih, sarang burung hitam, lilin, kampur (champor) dan rotan. Pada tahun 1800-an barulah Tidung bertani menghasilkan beras, yakni di Salimbatu. beras juga dijual untuk ditukar dengan hasil alam dengan orang-orang pedalaman.

1850, Tidung kembali ke Sesayap. Di Tarakan, sarang burung, emas, guta dan rotan ditukar dengan pakaian, ikan asin, garam dan beras. Sagu dari tidung dan beras dari hulu kayan juga terdapat di pasaran. Bagaimanapun, sekitar tahun 1860, tarakan menjadi tempat bertemu bagi perdagangan maritim.

Belanda bergerak setelah kontrak politik dengan kesultanan Bulungan, melawan bajak laut, menundukkan pemberontakan dayak, mengontrol perdagangan, dan membawa Tidung kembali ke pemerintahan kesultanan Bulungan dan kemudian ke kesultanan Berau.

Kerajaan Tidung pindah ke Malinau Seberang sekitar tahun 1900, dekat dengan gua sarang burung di Bengalun yang mereka kuasai hingga sekarang.

**Bernard Sellato adalah ilmuwan perancis yang menyandang gelar doktor antropologi. Ia tinggal bertahun-tahun di Kalimantan untuk menelaah sejarah, bahasa, dan kebudayaan.

** Raga Candradimuka adalah  , pemerhati sejarah dan ketua Forum Intelektual Kalimantan Utara (FIKR)

Source
Forest, Resources and People in Bulungan - Bernard SellatoWikipedia
Tags
Show More

Related Articles

Beri komentar

Close