BENUANTA — Rencana pembangunan infrastruktur konektivitas di wilayah pedalaman Berau mendapat lampu hijau dari jajaran legislatif.
Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris, mendukung rencana pembangunan jembatan permanen di jalur penghubung lintas Kampung Inaran, Bena Baru, dan Pegat Bukur di Kecamatan Sambaliung.
Menurutnya, langkah tersebut bakal menjadi solusi jangka panjang yang paling tepat untuk menyudahi persoalan tanah longsor yang terus-menerus berulang di kawasan tersebut.
Terlebih lagi, bentang jalur darat tersebut merupakan satu-satunya akses masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari.
Gideon menjelaskan, kondisi geografis di lokasi tersebut memang tergolong cukup rawan terhadap pergerakan tanah.
Oleh karena itu, skema perbaikan maupun perawatan jalan yang selama ini dilakukan secara sementara dinilai sudah tidak lagi berjalan efektif di lapangan.
Kondisinya kian mengkhawatirkan lantaran setiap kali hujan deras mengguyur, badan jalan kerap mengalami ambles.
Sehingga, menciptakan situasi yang sangat membahayakan keselamatan para pengguna jalan.
“Kalau hanya tambal sulam atau penanganan sementara, setiap musim hujan pasti kembali rusak. Karena itu pembangunan jembatan permanen memang harus diprioritaskan agar masyarakat tidak terus dihantui rasa khawatir saat melintas,” ujar Gideon.
Ia menilai, ketersediaan akses jalan yang aman sangat krusial bagi orang banyak, mengingat jalur tersebut menjadi Penghubung utama bagi mobilitas warga di tiga kampung.
Selain menyokong aktivitas harian masyarakat, interkoneksi darat ini juga digunakan secara intensif untuk jalur distribusi kebutuhan pokok, akses pendidikan anak-anak sekolah, hingga mobilisasi layanan kesehatan darurat.
“Jangan sampai masyarakat terisolasi hanya karena akses jalan putus akibat longsor. Pemerintah harus serius melihat persoalan ini karena menyangkut keselamatan dan roda ekonomi warga,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas langkah tanggap darurat yang sebelumnya telah diambil pemerintah daerah.
Melalui pemasangan jembatan darurat jenis bailey sepanjang 45 meter, konektivitas antar-wilayah tersebut setidaknya bisa tetap berjalan dan mencegah terjadinya isolasi total.
Namun, Gideon menggarisbawahi kehadiran solusi sementara tersebut sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai tumpuan penanganan dalam jangka panjang.
Gideon berharap usulan mengenai cetak biru pembangunan jembatan permanen ini dapat kembali diperjuangkan secara maksimal dalam pembahasan anggaran belanja daerah berikutnya.
Ia meminta instansi teknis segera melakukan kajian hidrologi dan geoteknik secara matang agar proyek infrastruktur ini bisa secepatnya direalisasikan.
“Memang kita memahami kondisi anggaran daerah saat ini cukup terbatas. Tetapi untuk infrastruktur vital seperti ini harus tetap menjadi perhatian utama karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” pungkas Gideon. (/Adv/DPRD Berau)




