BENUANTA – Choi Siwon yang merupakan anggota grup legendaris Super Junior kini tengah menjadi sasaran kemarahan publik Korea Selatan. Kamis (19/2/26), Siwon mengunggah sebuah pesan ambigu melalui Instagram Story pribadinya sesaat setelah mantan Presiden Yoon Suk Yeol dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Kemarahan netizen dipicu oleh waktu pengunggahan yang dianggap sangat sengaja untuk mengomentari putusan hukum terhadap Yoon Suk Yeol. Mantan presiden tersebut dinyatakan bersalah atas tuduhan pengkhianatan negara karena melumpuhkan aktivitas Majelis Nasional melalui deklarasi darurat militer pada akhir 2024 lalu.
Tafsir Pesan dan Idiom Mandarin
Awalnya Siwon mengunggah idiom Mandarin berbunyi Bul-Ga-Sa-Eui yang memiliki arti sebuah misteri atau sesuatu yang tidak dapat dipahami. Unggahan tersebut kemudian dihapus dan diganti dengan rangkaian delapan karakter Mandarin yang bermakna bahwa ketidakadilan akan membawa kehancuran institusi.

Netizen Korea Selatan menafsirkan kata-kata tersebut sebagai bentuk pembelaan Siwon terhadap sang mantan presiden yang ia anggap diperlakukan tidak adil. Kritik tajam pun mengalir deras karena Siwon dianggap menggunakan pengaruhnya sebagai figur publik untuk menyebarkan pandangan politik yang kontroversial.
“Banyak netizen mengkritik Choi Siwon karena secara eksplisit mengekspresikan pandangan politiknya sebagai tokoh publik yang berpengaruh,” tulis laporan media setempat.
Rekam Jejak Politik Konservatif
Kecaman ini bukan pertama kalinya menimpa bintang drama tersebut karena sebelumnya ia juga sempat memicu kontroversi serupa di kalangan penggemar internasional. Pada tahun 2025 ia pernah mengungkapkan rasa duka atas kematian tokoh sayap kanan Amerika Serikat dan menyebutnya sebagai seorang pahlawan.
Sikap politik Siwon kali ini dianggap sangat sensitif karena berkaitan langsung dengan stabilitas demokrasi di Korea Selatan yang sempat terguncang. Publik bahkan tidak segan melabeli sang idol sebagai simpatisan sayap kanan garis keras yang tidak peka terhadap penderitaan rakyat akibat krisis politik tersebut.
“Beberapa orang lebih lanjut menuduhnya sebagai anggota kelompok sayap kanan,” pungkas laporan mengenai reaksi publik tersebut.



