BENUANTA – Seruan untuk memeratakan pembangunan berbasis digital di seluruh wilayah Kabupaten Berau kembali menggema dari gedung legislatif.
Ketua Komisi III DPRD Berau, Liliansyah, menegaskan, akses digital yang merata merupakan langkah strategis yang tidak bisa ditunda lagi.
Hal itu diperlukan demi mengikis jurang pemisah antara kemajuan di wilayah perkotaan dan kawasan pelosok.
Menurut Liliansyah, transformasi digital merupakan hak seluruh warga negara yang tidak boleh hanya dinikmati oleh masyarakat di pusat kota.
Ia menyoroti kondisi di mana warga di daerah terpencil seringkali tertinggal dalam mengakses informasi dan teknologi.
“Pemerataan akses digital penting agar seluruh masyarakat bisa merasakan manfaat teknologi, baik di kota maupun di kampung,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Kehadiran jaringan internet di tingkat kampung dinilai bukan sekadar fasilitas untuk mempermudah komunikasi personal, melainkan kunci pembuka peluang besar di berbagai sektor kehidupan.
Di dunia pendidikan, konektivitas yang stabil akan mendukung sistem pembelajaran digital dan memperluas cakrawala informasi bagi para siswa di pedalaman.
Sementara itu, dalam sektor pelayanan publik, ketersediaan jaringan yang mumpuni diyakini dapat mempercepat proses administrasi pemerintahan di tingkat kampung.
Sehingga pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih efisien.
Liliansyah juga melihat potensi besar bagi kemandirian ekonomi warga melalui teknologi ini.
“Konektivitas digital mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pelaku usaha mikro di kampung akan sangat terbantu,” jelasnya.
Oleh karena itu, Liliansyah menaruh harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Berau segera menyusun program perluasan jaringan yang tepat sasaran, khususnya menyasar wilayah-wilayah yang saat ini masih terisolasi dari dunia luar.
Ia memberikan catatan khusus pada beberapa titik yang kondisinya masih memprihatinkan.
“Di wilayah Kelay masih sangat sulit jaringan. Begitu juga di kawasan pesisir masih ada beberapa yang belum maksimal,” terangnya.
Meski demikian, pembangunan infrastruktur fisik berupa tower atau jaringan kabel bukanlah satu-satunya jawaban.
Liliansyah juga mengingatkan, penyediaan fasilitas internet gratis harus dibarengi dengan program literasi digital yang masif, baik bagi perangkat kampung maupun masyarakat umum.
Hal ini penting agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara bijak, aman, dan produktif, serta terhindar dari dampak negatif dunia maya.
“Internet gratis harus diiringi kemampuan memanfaatkannya dengan bijak agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (Adv)




