Kuku Berubah Warna, Tanda Kanker? Begini Penjelasan Ahli

Fathur

942ce7a6 1000011698.jpg
942ce7a6 1000011698.jpg

Benuanta.id – Sebuah penelitian terbaru dari Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH) menemukan bahwa perubahan warna alami kuku dapat menjadi tanda risiko kanker. Temuan ini membuka peluang baru dalam deteksi dini dan skrining kanker.

Penelitian ini fokus pada onychopapilloma, kelainan kuku yang ditandai dengan garis putih atau merah di sepanjang kuku dan penebalan kuku. Para peneliti menemukan bahwa onychopapilloma dapat menjadi indikator sindrom predisposisi tumor BAP1.

Sindrom ini merupakan kelainan genetik langka yang meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk melanoma, kanker mata, kanker ginjal, dan mesothelioma. Dr. Edward Cowen, salah satu penulis penelitian, mengatakan, “Temuan ini jarang terlihat pada populasi umum. Namun, perubahan kuku yang menunjukkan onychopapilloma pada beberapa kuku harus mendorong pertimbangan diagnosis sindrom predisposisi tumor BAP1.”

Berdasarkan penelitian ini, para peneliti merekomendasikan pemeriksaan kuku pada pasien dengan riwayat melanoma atau potensi keganasan terkait BAP1. Dr. Rafit Hassan, penulis senior penelitian, menambahkan, “Penemuan ini menunjukkan bagaimana tim multidisiplin dan studi sejarah alam dapat mengungkap wawasan tentang penyakit langka.”

Temuan ini dipublikasikan di JAMA Network dan diperoleh setelah tim mengevaluasi kelainan kuku pada 47 orang yang terdaftar di Pusat Klinis NIH untuk skrining varian BAP1. Peserta berasal dari 35 keluarga.

Alexandra Lebensohn, salah satu penulis penelitian dari National Cancer Institute, NIH, menjelaskan, “Ketika ditanya tentang kesehatan kuku dalam penilaian genetik dasar, satu pasien melaporkan perubahan halus pada kukunya. Pernyataannya mendorong kami untuk secara sistematis mengevaluasi perubahan kuku peserta lain dan mengungkap temuan baru ini.”

Peneliti kemudian mengkonfirmasi dugaan onychopapilloma pada peserta dengan biopsi. Onychopapilloma biasanya hanya menyerang satu kuku. Namun, pada lebih dari 88% peserta penelitian dengan sindrom predisposisi tumor BAP1 berusia 30 tahun ke atas, kondisi ini terjadi pada banyak kuku.

Penelitian ini membuka jalan baru untuk deteksi dini kanker pada individu dengan sindrom predisposisi tumor BAP1. Pemeriksaan kuku yang sederhana dan non-invasif dapat membantu mengidentifikasi mereka yang berisiko tinggi dan memungkinkan intervensi dini.

Bagikan:

Baca Juga