Dua Warga Kaltara Belum Ditemukan, Satu Warga Tarakan Berharap Dipulangkan
Tim relawan asal Kaltara melakukan identifikasi belasan pengungsi yang mengaku sebagai warga Kaltara di posko pengungsian Kecamatan Palu Barat.

Setelah berhasil memulangkan 77 pelajar asal Kaltara yang menempuh studi di Kota Palu, tidak membuat perjuangan tim Relawan Kaltara berhenti. Kemarin (8/10) relawan Kaltara sebanyak 60 orang yang resmi berangkat menggunakan kapal laut.

Wahyu Susanto, Humas Provinsi Kaltara

MINGGU (7/10) tim relawan Kaltara yang berada di Palu kembali melakukan aktivitasnya. Mereka bergerak menuju Balaroa untuk mengidentifikasi warga Kaltara. Balaroa menjadi salah satu kawasan yang terdampak oleh Tsunami yang saat ini masih dalam proses evakuasi.

Adalah Yanti Suriati (42) dan Mega Putri Aulia (10) warga Mara 1, Kabupaten Bulungan yang hingga saat ini belum ditemukan keberadaannya. Diduga kedua warga tersebut tertimbun oleh reruntuhan pasca gempa 7,3 SR mengguncang Palu dan sekitarnya.

Tidak sampai disitu, tim terus mencoba mencari tahu keberadaan warga Kaltara. Alhasil, rombongan tim relawan berhasil mendapatkan laporan tentang adanya warga yang mengaku dari Kota Tarakan. Seketika itu pula rombongan langsung meninggalkan posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah, untuk melacak laporan itu.

Alhasil, tim pun tiba di lokasi dimaksud untuk mengidentifikasi sejumlah warga Kaltara di posko tersebut. Miris, bahkan tak kuasa melihat keberadaan 14 pengungsi yang mengaku berasal dari Tarakan. Meski demikian, tim pun tetap melakukan identifikasi terhadap belasan itu. Dari jumlah itu, hanya satu orang yang diidentifikasi memiliki KTP Kaltara.

Ialah Iriansyah (20) warga Sebengkok Tiram, Kota Tarakan. Keberadaan dia di Palu adalah untuk mengunjungi sanak familinya setelah gagal mengikuti seleksi masuk Bintara TNI AD di Balikpapan belum lama ini. Ia menuturkan bersamaan dengan belasan warga lainnya, belum mendapatkan bantuan logistik dan hanya berharap makanan dari dapur umum. “Air di sini juga susah mas, kami harus mengangkut air menggunakan galon,” ujar Iriansyah. Besar harapan Iriansyah dapat segera kembali ke Kota Tarakan untuk berkumpul dengan orangtuanya.

Selain Iriansyah, harapan besar untuk dapat kembali ke Tarakan adalah Hamka. Dia adalah salah satu warga Bumi Paguntaka yang telah pindah ke Palu dengan profesi wirausaha. Keinginan Hamka untuk kembali ke Kaltara didorong karena memiliki anak yang masih bayi. Ia khawatir, jika anaknya terlalu lama di pengungsian akan terjangkit penyakit karena harus tidur di luar. “Besar harapan kami bisa kembali ke Tarakan, disini tidak ada apa-apa yang kami miliki. Biarlah saya ikut dengan kakak saya di Tarakan, kasihan bayi kami takut terkena infeksi penyakit karena tidur di luar terus,” ungkap Hamka dengan raut sedih.

Sementara itu, Kepala BPBD Kaltara Muhammad Pandi mengungkapkan, fokus tim relawan Kaltara yang dikirim ke Palu adalah untuk mengidentifikasi masyarakat Kaltara. Identifikasi digunakan dengan menunjukkan identitas sebagai bukti domisili Kaltara. “Itu harus dibuktikan dengan identitas diri, misalnya dengan KTP-nya agar kita dapat segera mengupayakan agar segera dipulangkan. Kalau dia warga Kaltara tetapi identitasnya sudah pindah ke Palu, tidak bisa kita pulangkan,” jelas Pandi.

Tim relawan terus melakukan pencarian kedua korban tersebut. Hingga pada malam hari, sebagian warga ada yang mengungsi, sebagian lainnya ada yang tetap bertahan di rumah. Warga yang bertahan di rumah itu terpaksa tidur di depan rumah, lantaran takut terjadinya gempa susulan. Meski belum pulih seutuhnya, layanan pemerintahan sudah mulai berjalan. Kemarin (8/10) seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemprov Sulteng mulai masuk kantor guna memaksimalkan pelayanan publik.(bersambung)

Label:
Advertorial
Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 100%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu