Menatap Masa Depan (Pariwisata) Tarakan, Sebuah Tawaran Gagasan
Ariza Raditya Zirahanasa

Sebagai kota berkembang, Tarakan harus berpikir serius untuk menggarap sumber pendapatan alternatif daerah. Kita tidak bisa lagi berharap pada sumber daya alam yang pasti habis dan memakan waktu ribuan bahkan jutaan tahun untuk bisa kembali diolah. Kita tentu tak bisa berharap pada pajak dan kebaikan hati para pelaku industri rumahan maupun skala besar. Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat Tarakan mulai menggarap industri alternatif. Pariwisata salah satunya.

Tulisan ini berangkat dari pengalaman saya menyaksikan dan merasakan bagaimana pariwisata di berbagai tempat di Indonesia bekerja. Anggap saja ini sedekah atau iuran pemikiran. Untuk setidaknya jadi wacana alternatif demi kemajuan dan perkembangan Tarakan, terutama di bidang pariwisata. Menurut saya, ada beberapa alasan mengapa kita harus serius menggarap industri pariwisata di Tarakan.

Manfaatkan yang Ada

Kekayaan pantai di Tarakan memang tidak seindah Berau dengan Pulau Derawan-nya. Apalagi jika dibandingkan Bali dengan Pantai Kuta atau Seminyak-nya yang sudah terkenal hingga mancanegara. Pantai Amal, baik Amal Lama maupun Amal Baru, terkesan dirawat a la kadarnya hingga tempat sampah saja begitu sulit ditemukan. Mungkin juga, kedua pantai itu dikembangkan tanpa proyeksi dan tujuan pembangunan yang signifikan. Dengan segala keterbatasan itu, mungkin kelak kita hanya menikmati Pantai Amal sebagai mitos. Jika kita memang serius ingin menggarap, tentu ada banyak model pemanfaatan wisata pantai dengan keterbatasan seperti Pantai Amal.

Di Tarakan juga tidak ada wisata pendakian seperti misalnya Bromo, Semeru atau Merapi. Tak ada gua-gua wisata seperti Jogja atau Pacitan. Juga belum semaju Singapura untuk menjadi tujuan wisata belanja. Sungguh ironi, saat dulu kita punya mimpi untuk menjadi “Little Singapore” yang belakangan menjadi “The New Singapore”. Menjadi semakin utopis dan ambisius tanpa proyeksi dan langkah yang nyata kecuali hanya sebatas jargon: tembang nina bobo a la pemerintah masa lalu. Bukan tak mungkin dengan semua hal tersebut pariwisata betul-betul meningkatkan pendapatan. Mulai dari kuliner, tempat penginapan, penyediaan transportasi hingga jasa pemandu. Semuanya bisa digarap oleh masyarakat lokal.

Untungnya, definisi wisata tak hanya sebatas menikmati kekayaan alam seperti yang sudah disebutkan sebelumnya atau ikut-ikutan merayakan kemajuan zaman a la Singapura. Tarakan masih bisa memperkenalkan wisata yang ada dan tentu saja tak kalah ‘menjual’ dibanding daerah lain. Mulai dari wisata sejarah dengan sensasi outdoor atau wisata indoor dengan mengunjungi rumah adat dan museum yang ada di Kota Tarakan.

Untuk wisata sejarah, kita harus bisa lebih serius lagi ‘menggarap lahan’ yang tersebar di seantero Tarakan. Ada banyak peninggalan perang dunia ke-2 di Tarakan. Di beberapa lokasi di Juata masih ditemukan benteng berukuran kecil hingga sedang. Juga masih terdapat bekas gardu pemasok listrik ketika perang dulu. Di bandara internasional Juata juga terdapat gardu intai. Di daerah Peningki Lama ada  belasan sisa-sisa senapan mesin beserta ‘dudukannya’. Semua itu tentu bisa dimanfaatkan untuk menjadi daya tarik wisata sejarah. Wisata dengan sensasi bertualang lainnya yang juga tak kalah penting adalah Konservasi Mangrove dengan kekhasan flora dan faunanya. Bekantan dan tanaman bakaunya bisa dikembangkan menjadi taman wisata edukatif dengan lebih serius lagi.

Di luar itu, ada pula wisata Rumah Adat Tarakan yang terdapat di daerah Aki Babu. Rumah adat yang menampilkan kekayaan adat dan budaya masyarakat asli Tarakan di masa lampau itu layak dikunjungi. Bukan hanya layak, tapi harus dikunjungi. Lantas muncul pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya agar Rumah Adat Tarakan tersebut layak atau harus dikunjungi?

Ada pula Rumah Bundar di daerah Kampung Baru yang sangat Instagram-able itu. Sangat disayangkan memang beberapa rumah telah ditempati oleh ahli waris. Namun, sedikit yang tersisa harusnya bisa dimanfaatkan.

Yang paling muda usianya tapi mulai jadi primadona tentu saja Museum Sejarah Tarakan. Sayangnya, Museum Sejarah Tarakan juga belum digarap serius. Saya baru sekali berkunjung. Dari hasil pengamatan saya, secara teknis, saya kesulitan menemukan alur yang tepat saat masuk ke museum. Saya kebingungan harus memulai tur ke dalam museum melalui sisi sebelah kanan atau kiri. Timeline sejarah juga tak tampak sebagai alat bantu kepada pengunjung memahami sejarah Tarakan. Hal lain yang tak kalah penting, caption pada masing-masing objek foto terkesan tak kalah ala kadarnya. Niat menghargai dan merawat barang-barang bersejarah yang ada di dalam museum harusnya juga diiringi semangat preventif menjaga barang-barang tersebut.

Masyarakat yang Edukatif dan Berdaya

Menggarap pariwisata lokal itu haruslah diikuti dengan semangat pemberdayaan dan pendidikan kepada masyarakat lokal. Anggaplah Tarakan ingin serius menggarap wisata sejarah. Maka, masyarakat di sekitar objek wisata sejarah tersebut setidaknya dibekali kemampuan berbahasa dan komunikasi yang baik. Penting memang untuk menguasai bahasa asing. Tapi yang jauh lebih penting dan perlu sering-sering diingatkan adalah kemampuan berkomunikasi dengan adab dan sopan santun. Setidaknya paham bedanya antara berbahasa untuk teman sebaya dengan orang yang lebih tua. Apalagi orang asing atau tamu yang ingin belajar dan ingin tahu soal Tarakan.

Semangat yang dipupuk haruslah semangat melayani. Semangat menyambut tamu yang ingin belajar dan ingin tahu. Keramahtamahan adalah kunci dari industri pariwisata dan tak lain merupakan buah dari semangat melayani tadi. Keramahtamahan bisa jadi tidak ada hubungannya dengan tingkat pendidikan, atau tak bisa dilihat dari status antara pendatang dengan warga lokal. Keramahtamahan ini yang mulai pudar dari masyarakat Tarakan.

Semangat memberdayakan dan mengedukasi masyarakat Tarakan bisa digarap dengan hal yang paling sederhana dan sudah pula dilakukan. Paling tidak, Tarakan punya sedikit modal dari sisi ini. Salah satunya dengan adanya perguruan tinggi yang melaksanakan program KKN (Kuliah Kerja Nyata). Mahasiswa KKN hendaknya mulai memikirkan bagaimana kelak wisata sejarah di Tarakan bisa dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitar. Jika masyarakat sudah berdaya, pemerintah hanya tinggal mempromosikan saja.

Salah satu contoh program KKN yang bisa dikatakan berhasil adalah program KKN yang menginisiasi adanya pengembangan wisata gua Pindul di Wonosari, Yogyakarta. Mahasiswa KKN di Tarakan tentu bisa saja melakukan hal yang sama. Kita semua tentu bisa belajar dari Jogja yang punya desa-desa wisata yang dikelola secara kekeluargaan dan guyub, sehingga tidak melulu bergantung pada pemerintahnya. Saya membayangkan mahasiswa-mahasiswi KKN yang notabene punya akses terhadap pengetahuan, bisa melakukan analisis mendalam terhadap potensi dan peluang wisata sejarah bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat sekitar objek wisata. Dan menjadikan wisata sejarah sebagai program utama dari KKN yang mereka jalani.

Nantinya di sekitar lokasi wisata sejarah, masyarakat yang sudah mendapat pengetahuan dan berdaya mulai mengembangkan tempat parkir, toilet umum dan tempat ibadah berbayar. Yang keuntungannya dikelola untuk membuat jalan yang lebih baik, pengadaan lampu jalan ataupun pembangunan kampung itu sendiri. Semua aktifitas pengelolaan itu haruslah transparan dan dapat dipertanggung jawabkan pemanfaatanya.

Memposisikan Pemerintah

    Melalui Dinas Pariwisata, boleh juga rasanya dibuatkan kalender tahunan. Acara-acara besar Tarakan, seperti Iraw tidak hanya dijadikan agenda tahunan dan terjadwal, tapi juga dipublikasikan dan dipromosikan. Mungkin selama ini sudah dilakukan, tapi rasa-rasanya belum optimal. Pemerintah melalui Dinas Pariwisata hendaknya membuat target wisatawan yang akan datang, target wisatawan yang menginap dan target pemasukan daerah dari acara sebesar Iraw. Semua itu harus selalu menjadi bahan evaluasi dan dikawal prosesnya oleh semua pemangku kebijakan. Lagi-lagi, tentu saja agar pariwisata Tarakan sebagai industri alternatif bisa pelan-pelan tumbuh dan menemukan bentuknya.

    Setelah mendapat kalender pariwisata tahunan dari Dinas Pariwisata, dinas-dinas terkait bisa melakukan koordinasi dan bahu-membahu mencapai Target. Misalnya, melalui Dinas Perhubungan memberikan tiket promo untuk angkutan udara dan laut. Teknisnya bisa dicari kemudian, tapi poinnya adalah keseriusan pemerintah dalam menggarap bagian ini.

    Dinas pariwisata juga bisa turut aktif melakukan promosi di tingkat nasional maupun internasional dengan beragam rupa media. Mulai dari promosi menggunakan media cetak seperti promosi di katalog atau majalah wisata, hingga media digital seperti promosi di televisi nasional yang kebetulan sedang liputan di Tarakan. Tidak hanya itu, promosi juga bisa dilakukan dengan metode lain. Misalnya saat tayang film “Terbang” yang 40% settingnya berlatar di Tarakan, Dinas Pariwisata harusnya bisa memanfaatkan momentum ini dengan membuat acara nonton bersama. Tentu saja selain karena bioskop yang belum juga tampak, nonton bersama juga bisa jadi merupakan cara paling efektif, murah dan sederhana mempromosikan Tarakan. Soal nonton bersama ini, saya jadi ingat tingginya antusiasme masyarakat Sulawesi Selatan saat pemutaran film “Uang Panai”. Sebuah film yang mengangkat isu sosial di daerah Makassar, lengkap dengan setting dan bahasa lokalnya.

Harapan Jangka Panjang

    Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, Tarakan memang boleh tidak terlalu berharap pada apa yang ada sekarang. Sudah saatnya Tarakan mulai serius menggarap industri alternatif jika ingin bertahan dan menambah pemasukan daerah. Untuk menuju ke sana diperlukan bantuan dan kerja semua pihak. Diperlukan pula pandangan, masukan, saran dan kritik dari semua pihak. Arah kebijakan bukan lagi monopoli pemerintah, tapi milik seluruh warga Tarakan.


Ditulis oleh: Ariza Raditya Zirahanasa (Perintis Komunitas Tarakan Berbagi)

Pilih Bangga Bangga 100%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu