Ivana Kurniawati, Pejuang Literasi Asal Tanjung Selor di Kota Pahlawan
Ivana Kurniawati © Instagram

Namanya Ivana Kurniawati, mahasiswi semester tujuh Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra Surabaya asal Tanjung Selor. Dara cantik kelahiran 22 Agustus 1996 ini memiliki bakat seni dan kepedulian yang sangat tinggi terhadap dunia literasi. Di feed akun instagramnya @ivana_kurniawati, ia mengabadikan berbagai kegiatan inspiratif yang ia lakukan selama menempuh pendidikan di Kota Pahlawan, seperti perpustakaan jalanan hingga aksi sosial seperti peduli Munir hingga Kendeng.

Menjelang dini hari 19 Oktober 2017 benuanta.id berkesempatan mewawancarai Ivana melalui aplikasi pesan WhatsApp. Berikut wawancara kami, semoga menginspirasi.

 

Sejak kapan suka literasi dan seni?

Suka literasi baru waktu kuliah, tidak terlepas dari faktor Aku pindah ke Surabaya. Suka seni sejak kecil, tapi sayang sekali Tanjung Selor waktu itu sangat terbatas. Maksudku, peralatan berseni sangat terbatas, hanya yang standar, kalaupun ada yang bagus harganya mahal. Belum lagi keterbatasan informasi, karena pada masa kecil masih belum dekat dengan internet. Keterbatasan referensi, sebab dalam berkarya perlu banyak referensi yang mendukung.

Pertama kali aku tahu kamu itu dari akun Instagram. Sekitar bulan April lalu salah satu tim kami yang di Malinau follow dan dm (direct message) kamu menggunakan akun @benuanta.id. Dan aku penasaran juga, setelah dicek ada postingan Lapak Baca kalau tidak salah, bisa diceritakan?

Iya mas, singkatnya, setelah aku menyadari pentingnya membaca buku, aku merasa orang-orang lain juga harus merasakannya. Tapi aku sadar banyak permasalahan yang terjadi dalam dunia literasi, salah satunya keterbatasan akses (seperti pada waktu aku kecil dulu, hanya ada satu toko, pun yg dijual hanya buku pelajaran). Di kota ada banyak perpustakaan, perpustakaan kota, perpustakaan daerah,  perpustakaan swasta yang bisa diakses publik. Tapi mengapa aku masih merasa perlu membuka kegiatan perpustakaan jalanan?

Karena bagi aku, masyarakat itu sudah terlalu lama menganggap buku itu ekslusif. Buku hanya milik orang-orang pintar, hanya milik orang-orang berpendidikan. Begitu yang mereka pikirkan, sedangkan kita tahu sendiri, kesenjangan ekonomi di kota sangat tinggi. Banyak orang tidak sekolah, dan anak-anak mereka pun tidak sekolah.

Perpustakaan jalanan (lapak baca) hadir untuk mendekatkan masyarakat bukan hanya pada buku, tapi kesadaran akan pentingnya membaca buku. Bedanya dengan perpustakaan, Kita langsung terjun di ruang publik, kita melakukan pendekatan-pendekatan langsung dgn masyarakat. Nanti aku ceritakan bagaimana pendekatannya.

Perpustakaan jalanan (lapak baca) dimulai mei 2016, belum begitu lama.

Perpustakaan jalanan itu kamu dirikan sendiri atau dengan beberapa orang?

Beberapa orang mas, awalnya Aku di komunitas Pecandu Buku, lalu di Surabaya kami membentuk Aliansi Literasi Surabaya, isinya adalah beberapa komunitas literasi yang bergerak dengan jalan yang sama (perpus jalanan), Pecandu Buku tergabung di dalamnya.

Kapan nih pulang kampung halaman buat nularin minatnya dan bangun Lapak Baca di Tanjung Selor?

Aku belum ada rencana pulang, masih pengen lanjut sekolah lagi. Dan aku pikir masih banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan di Tanjung Selor. Untuk mengembangkan literasi, selain lapak baca. Sebab aku pikir, sebenarnya lapak baca tidak selalu bisa dilihat sebagai cerminan positif (anak muda yg bergerak dll), tapi coba lihat deh kenapa kita sampai perlu mengadakan lapak baca? Karena banyaknya permasalahan sistem. Misalnya di Tanjung Selor, distribusi bukunya masih minim.

Sebab bagi aku, ketika kita membahas "minat baca yang rendah", itu bukan permasalahan utamanya. Itu justru akibat dari permasalahan sesungguhnya, seperti sistem pendidikan kita yang lebih menekankan pada hafalan. 

Bagi Ivana sendiri, genre buku seperti apa yang paling disukai?

Aku suka macem-macem mas, kalau buku fiksi aku suka sastra (tapi tergantung dari tema dan pengarangnya lagi), kalau buku non fiksi aku paling suka sejarah dan budaya. Aku tidak membatasi diri dengan buku-buku tertentu sih mas, aku juga suka baca buku psikologi, suka buku tentang fotografi. Pokoknya suka buku yang menambah wawasan, buku anak-anak pun aku suka (tapi tidak suka komik hahaha)

Cukup spesifik kalau mau dibahas, misalnya sastra. Aku tidak suka sastra populer. Aku suka sastra realisme sosial. Aku tidak mencari buku-buku yang menghibur aku dalam khayalan kebahagiaan, aku suka buku-buku yang mendekatkan aku pada kenyataan kehidupan.

Penulis Idola kamu siapa kalau boleh tahu?

Pramoedya Ananta Toer, untuk puisi saya suka Aan Mansyur.

Selama di Tanjung Selor kan lebih suka ke seni, siapa sih yang lebih mempengaruhi kamu suka seni? Punya tokoh idola tidak?

Kata Pablo Picasso, semua anak kecil itu seniman, permasalahannya adalah bagaimana seseorang bisa tetap menjadi seniman sampai dewasa. Aku punya tokoh idola dalam seni, namanya Frida Kahlo, yang juga baru aku tahu waktu kuliah

Aku tidak tahu siapa dan bagaimana aku bisa tetap menyukai seni, aku suka saja, menjadi seniman itu menyenangkan pikirku. Tapi baru mendalami seni dan punya pandangan yang luas tentang seni yah semasa kuliah.

Dulu aku hanya suka seni, tapi aku tdk bisa gambar. Aku sering ikut lomba dan aku kalah ;)

Suka Frida Kahlo pun yang terutama bukan karena karya lukisnya, tapi karakter keperempuanannya. Frida kahlo itu perempuan inspiratif, aktivis juga.

Apa harapan kamu untuk teman-teman di Kaltara khususnya Tanjung Selor?

Sejujurnya aku sedikit khawatir, teknologi (khususnya teknologi komunikasi) berkembang begitu pesatnya, aku melihat ketidakseimbangan antara pesatnya teknologi dengan edukasi, jadi masyarakat cenderung menerima dampak negatif dari kemajuan teknologi itu. Di kota pun seperti itu, terlebih di Kalimantan. Harapanku, di manapun kita berada, kita harus bisa berpikir di luar tempurung. Entah itu lewat buku, diskusi, atau pandai-pandai lah memanfaatkan gadget bukan hanya untuk sosmed, tapi juga melihat perkembangan zaman, melihat isu-isu sosial, melihat kenyataan kehidupan.

Terakhir, bisa buatkan quote buat teman2 termasuk aku untuk semangat tingkatkan literasi?

Membaca buku itu bukan hobi yang bisa dipilih mau suka atau tidak, buku juga bukan hiburan untuk mengusir bosan (jangan berharap terhibur ketika membaca buku), justru buku itu kebutuhan, dan kita harus bisa melawan rasa bosan ketika membaca, apalagi perasaan menganggap buku tidak penting. Ketika mindset kita berubah, dunia kita juga akan berubah, aku bisa menjamin itu.

Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 100%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu