Kopi Peso, Kopi Lokal yang Belum Terjamah
Ingkong Ala saat mengunjungi tenant coffee shop di Minggu Menyeduh © Bergil Creative

Acara Minggu Menyeduh sukses digelar Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJI) Kabupaten Bulungan di Pendopo Lapangan Agathis, Tanjung Selor, Minggu (22/10). Terbukti dari awal dibuka pukul 15.00 WITA hingga acara ditutup jam 10 malam, animo masyarakat untuk mencicipi seduhan kopi para barista ibukota tidak ada habisnya.

Tidak hanya dihadiri masyarakat umum, beberapa pejabat dan tokoh di Ibukota pun menyempatkan waktu menikmati sore dengan seduhan kopi di sana. Seperti Wakil Bupati Bulungan Ingkong Ala, SE,  Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Kaltara A.M. Santiaji Pananrangi, S.IPM.Si dan rektor Universitas Kalimatan Utara (Unikaltar) Abduljabbarsyah Ibrahim pun turut hadir.

Menariknya, ketika mengunjungi tenant coffee shop, Ingkong Ala sempat menanyai kopi khas Bulungan, kopi jahe yang diproduksi di Kampung Arab, Tanjung Selor Ulu. Sayang, tidak satu pun coffee shop yang menyediakan kopi tersebut. Namun kekecewaan Ingkong Ala tersebut sirna karena salah satu barista menyeduhkan kopi asal Bulungan yang belum begitu dikenal, yaitu kopi Peso.

Kopi Peso sendiri adalah kopi robusta yang ditanam oleh masyarakat Long Peso. Untuk rasa, Jefry pemilik One Zero Coffee memasukkan kopi Peso di cita rasa kopi grade dua.

Pemilik coffee shop di daerah Telur Pecah dan masih aktif sebagai mahasiswa arsitektur di Unikaltar ini menjelaskan, kualitas seduh kopi peso dirasanya sudah cukup baik. Namun untuk rasa sendiri tergantung penikmatnya lagi, rasa kopi yang baik jangan sampai terganggu karena dicampur dengan gula misalnya.

"Kami selalu pecaya kopi yang baik akan menghasilkan penikmat yang baik juga, dan bisa menghargai petani kopinya bang," ungkap Jefry.

Harianto, pemilik warung kopi Labolong yang berada di jalan Sengkawit depan Pasar Induk menambahkan, Bulungan sendiri punya biji kopi yang khas. Seperti yang ditanam di Long Peso dan Tanah Kuning.

Namun sayang  untuk cita rasa memang masih kurang maksimal karena kurangnya edukasi kopi untuk para petani. Seperti petani kopi masih belum mengerti kapan biji kopi siap dipetik dan seperti apa roasting biji kopi yang benar.

"Perlu adanya perhatian dari instansi terkait supaya bisa lebih maksimal lagi rasanya. Syukur-syukur bisa jadi kopi andalan Bulungan," tutup pria yang akrab dipanggil Anto ini.

Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu