Ini Tiga Karya Budaya Asli Kaltara yang Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2017

Ini Tiga Karya Budaya Asli Kaltara yang Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2017
Sigit Mariyono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltara mewakili Gubernur Kalimantan Utara menerima sertifikat WBTB 2017 © Humpro Kaltaraprov

Bertempat di Gedung Kesenian Jakarta tiga karya budaya asli Kalimantan Utara (Kaltara) ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia tahun 2017. Penyerahan sertifikat WBTB sendiri diberikan langsung oleh Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltara Sigit Muryono, mewakili Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie Rabu (4/10) lalu.

Seperti dilansir Benuanta.ID dari laman Kaltaraprov, ketiga karya budaya asal Kaltara yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2017 adalah prosesi adat Suku Tidung penurunan Padaw Tuju Dulung dari Kota Tarakan, alat musik Suku Dayak Kenyah Jatung Utang dari Desa Metun Sajau Kabupaten Bulungan, dan Tari Lalatip dari Kabupaten Malinau.

Prosesi Penurunan Padaw Tuju Dulung

Merupakan salah satu prosesi adat yang biasa dilakukan di hari jadi Kota Tarakan atau yang lebih dikenal Irau Tengkayu. Padaw Tuju Dulung sendiri adalah perahu hias yang diarak keliling kota. Pada bagian bawah perahu dipasang beberapa bilah bambu yang digunakan oleh para pemuda untuk mengangkut Padaw Tuju Dulung. Padaw Tuju Dulung mempunyai 3 cabang yang disebut dengan haluan. Haluan pada bagian tengah dibuat 3 tingkat. Sementara 2 haluan lainnya yang ada dikanan dan kiri perahu dibentuk menjadi 2 tingkat. Jika dihitung semua tingkat yang ada di masing-masing haluan, maka total ada 7. Angka 7 ini melambang jumlah hari dalam seminggu yang digunakan sebagai perlambangan perjalanan kehidupan manusia yang harinya berulang setiap seminggu sekal.

Padaw Tuju Dulung yang diangkut oleh para pemuda dicat dalam 3 warna yang berbeda, yaitu kuning, hijau, dan merah. Bagian dari perahu paling atas mempunyai cat yang berwarna kuning. Dalam budaya Suku Tidung, warna kuning melambangkan kehormatan atau sesuatu yang ditinggikan. Oleh karena itulah warna kuning berada pada bagian tertinggi dari Padaw Tuju Dulung. Selain itu hanya satu tiang yang paling tinggi juga melambangkan bahwa satu penguasa tertinggi alam semesta yaitu Yang Maha Kuasa ALLAH SWT.

Pada bagian tengah Padaw Tuju Dulung terpasang 5 buah tiang. Jumlah tiang yang ada sebanyak 5 buah merupakan perlambangan dari shalat 5 waktu yang dilakukan oleh Umat Islam dalam seharinya. Tiang ini digunakan sebagai tempat untuk mengikat kain yang digunakan sebagai atap. Kain yang digunakan sebagai atap ini disebut dengan pari-pari. Tiang ini juga digunakan sebagai tempat untuk mengikat kain yang dihubungkan ke haluan perahu yang ada di kanan dan kiri.

Pada bagian tengah perahu tepat di bawah pari-pari terdapat tempat yang mempunyai bentuk seperti rumah. Tempat ini dilengkapi dengan atap bertingkat tiga yang disebut juga dengan nama meligay. Dimana di bawah meligay terdapat pintu pada keempat sisinya. Dibawah meligay inilah diletakkan sesaji yang berisi makanan yang selanjutnya akan dilepaskan di laut. Sesaji ini dalam masyarakat Tidung disebut pakan.

Alat Musik Jatung Utang

Merupakan alat musik tradisional Suku Dayak Kenyah. Terbuat dari kayu berbentuk gambang dan termasuk dalam kategori alat musik Xilofon. Cara memainkan Jatung Utang cukup sederhana yaitu dipukul dengan 2 buah batang kayu terpisah pada tiap lempengan kayunya, tiap lempengan kayu diikat di atas tali yang dipasang pada blok kayu yang tersusun dan akan mengeluarkan kunci nada yang berbeda-beda. Jatung Utang sendiri biasanya digunakan sebagai alat pengiring upacara adat dan tari Suku Dayak Kenyah.

Alat musik Jatung Utang sendiri sudah digunakan sejak zaman dahulu kala oleh Suku Dayak Kenyah dalam mengisi acara-acara adat, namun kabarnya alat musik yang satu ini merupakan alat musik yang ditemukan secara tidak sengaja oleh para petani yang sedang menunggu padi di sawah. Di dalam mengisi waktu tersebut, mereka mengambil bekas-bekas kayu ketika mereka membuka ladang. Dari kayu itulah kemudian mereka rangkai pada seutas tali dan mencoba mencocokkan dengan nada-nada yang dikeluarkan oleh alat musik Sampe maka ditemukanlah rangkaian kayu yang mengeluarkan nada yang sama notasinya dengan nada-nada yang ada pada alat musik Sampe, bedanya bila alat musik sampe di petik sedangkan Jatung Utang di pukul.

Tari Lalatip

Tari Lalatip atau dikenal juga dengan Tari Magunatip merupakan tarian tradisional yang berasal dari Malinau Kalimantan Utara. Pada jaman dahulu tarian lalatip digunakan sebagai latihan ketangkasan kaki dalam melompat dan menghindari rintangan. Hal ini dilakukan karena adanya perang antar suku. Kemudian latihan ketangkasan itu kini dijadikan sebuah tarian.

Dalam tarian lalatip atau magunatip yang merupakan tarian tradisional Kalimantan Utara ini terdapat tiga kelompok pemain yaitu kelompok penjepit kaki dengan menggunakan batang kayu, kelompok penari sambil menari juga menghindari jepitan kayu dan kelompok pemain musik dengan alat musik tradisional Bumi Benuanta berupa gong dan kendang.

Tarian ini mendebarkan karena penari dapat terjepit atau terapit kakinya oleh batang kayu bila terlambat menghindar apalagi saat penari menari dengan ditutup kedua matanya.

Dengan semakin meningkatnya pengakuan warisan budaya asli Kaltara ini menurut Sigit, memiliki banyak dampak bagi Kaltara. Yang pertama adalah suatu bentuk kebanggaan. “Yang kedua, tentunya akan menimbulkan pengaruh besar, kalau sebelumnya orang tidak kenal alat musik Jatung Utang. Ini merupakan salah satu contoh menarik wisatawan lokal dan mancanegara datang ke Kaltara,” katanya.

Kedepannya, Sigit mengharapkan tahun depan dapat meningkat lebih baik, dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Sebab menurutnya, menjadi sebuah tantangan sekaligus sebuah tanggungjawab moral sebagai warga Kaltara dalam melestarikan warisan budaya. “Disdikbud juga memiliki tanggungjawab besar untuk melakukan pembinaan sekaligus pelestarian,” tuntasnya.


Sumber: (Kaltaraprov, YouTube, Wikipedia)

Pilih Bangga Bangga 67%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 33%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu Peradi?

Berikan komentarmu